Suasana diskusi berlangsung terbuka. Peserta diberikan ruang untuk bertanya, menyampaikan pandangan, dan menggali lebih jauh cerita sejarah yang berkaitan dengan kawasan Bitai serta peranan Alam Peudeung dalam pemersatu rakyat Aceh di masa lampau. Pembahasan tersebut menjadi pengantar sebelum peserta diajak melihat langsung situs yang menjadi bagian dari sejarah tersebut.
Setelah sesi diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan Historical Walk dan ziarah ke Kompleks Makam Teungku Chik Di Bitai. Peserta berjalan menyusuri kawasan makam sambil mendapatkan penjelasan mengenai sejarah dan keterkaitan situs tersebut dengan perjalanan hubungan Aceh dan Turki Utsmani.
Founder Komunitas Ruang Lingkup, Harir Rizky Tullah, mengatakan Ruang Muda dihadirkan sebagai ruang belajar yang memungkinkan anak muda mengenal berbagai persoalan dan pengetahuan melalui pengalaman secara langsung.
“Kami ingin sejarah tidak hanya berhenti sebagai cerita yang dibaca. Setelah berdiskusi mengenai diplomasi hingga simbol kedaulatan seperti Alam Peudeung, peserta kami ajak melihat langsung tempat yang menjadi bagian dari sejarah tersebut. Dengan begitu, ada pengalaman yang bisa dibawa pulang dari setiap pertemuan,” ujar Harir.