Tim PKM Psikologi Unmuha Berikan Pelatihan Decoupage Art Kepada Pengrajin Rotan di Lhoknga

Redaksi 24 September 2021 | 07:21 25
Tim PKM Psikologi Unmuha Berikan Pelatihan Decoupage Art Kepada Pengrajin Rotan di Lhoknga

Foto : Istimewa

ACEH BESAR | Koranindependen.co -- Sebanyak 24 orang ibu – ibu pengrajin rotan yang berasal dari empat gampong di kawasan Lhoknga yakni Gampong Kueh, Gampong Lamgaboh, Gampong Aneuk Paya dan Gampong Lamcok diperkenalkan seni menghias dengan teknik Basic Decoupage Art pada Kamis (23/09/21).

Pelatihan ini dibuka oleh Bapak Ruslaidi, selaku kepala desa dari Gampong Lambaro Kueh. Melalui kata sambutannya ia mengatakan bahwa, "Ia sangat berterima kasih dan sangat mengapresiasi kegiatan Pengabdian ini karena kegiatan ini, pelatihan decoupage, adalah sesuatu yang baru bagi masyarakat gampong. Karenanya, ia mengajak seluruh peserta pelatihan untuk mengambil ilmu dari kegiatan ini dan kemudian menerapkannya”. ungkapnya.

Decoupage adalah seni yang telah dimulai sejak Abad ke 12 silam. Kata Decoupage sendiri berasal dari Bahasa Perancis yang berarti memotong, menggunting dan kemudian menempelkan potongan – potongan bahan (biasanya berupa napkin atau tissue khusus decoupage) pada media tertentu. 

Kerajinan

Kepada media koranindependen.co, Ketua pelaksana kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Psikologi Unmuha, Winda Putri Diah Restya, S.Psi., M.A mengatakan.

“Decoupage adalah cara yang menyenangkan untuk memberikan nilai tambah pada suatu produk, serta sebuah cara yang mudah untuk mendekorasi ulang berbagai media seperti talenan, perabotan lama, piring, nampan, gelas, dan lain sebagainya. Selain memiliki nilai estetika yang tinggi, teknik Decoupage juga dapat meningkatkan harga jual suatu produk”. Kata Winda

Menurutnya, kegiatan ini merupakan salah satu bentuk dari tri dharma perguruan tinggi yaitu melakukan pengabdian kepada masyarakat.

“Melalui kegiatan ini kami berharap dapat meningkatkan keterampilan, menumbuhkan kreativitas dan dapat membantu ibu – ibu dalam meningkatkan nilai jual produknya. Jika selama ini produk yang dipasarkan terbatas pada kerajinan berbahan dasar rotan, maka melalui pelatihan ini para pengrajin diharapkan memiliki alternatif produk baru untuk dipasarkan”, paparnya saat ditemui di balai desa, Gampong Lambaro Kueh, Kecamatan Lhoknga – Aceh Besar.

Proses pelatihan basic decoupage art dimulai dengan kegiatan mengamplas media seni (talenan), mengecatnya dengan cat khusus decoupage (cat acrylic), menggunting/ memotong napkin sesuai dengan pola yang dikehendaki, kemudian menempelkannya pada media seni dan diberi sentuhan akhir berupa varnish agar pola atau gambar dari napkin dapat terlihat seperti seolah – olah dilukis pada objek. 

Di akhir dari pelatihan dan pendampingan ini para peserta mendapatkan keahlian baru (new skill) terutama dalam hal teknik pembuatan produk seni melalui basic decoupage art. Selain itu dihasilkan juga 26 talenan yang telah dihias dengan teknik decoupage dan 5 clutch anyaman yang siap untuk dipasarkan. Kegiatan ini ditutup dengan pemberian feed back dari para peserta pelatihan, rencana tindak lanjut program dan foto bersama. (*)

Editor : Cut Ricky Firsta Rijaya