Sulaiman Tripa :

Gelar

Redaksi 10 September 2017 | 19:47 376
Gelar

Sulaiman Tripa, Dosen FH Unsyiah

Ada dua hal penting dalam dua bulan terakhir, terkait dengan gelar. Pertama, adanya himbauan dari pribadi pimpinan Badan Kepegawaian Regional, bagi pimpinan perguruan tinggi, untuk menuntaskan ijazah mahasiswa yang sudah wisuda. Bulan September ini, terbuka peluang bagi alumni perguruan tinggi untuk ikut serta dalam bursa penerimaan calon pegawai negeri sipil –aparatul sipil negara. Himbauan sangat penting mengingat lowongan kerja di Aceh sangat terbatas, sehingga dengan adanya peluang ini, minimal para sarjana bisa mencoba walau dengan ketersediaan jumlah kursi yang terbatas. Bisa dibayangkan jika untuk ikut berkompetisi saja sudah tertutup pintu akibat tidak selesainya ijazah.

Sudah terbiasa perguruan tinggi untuk sementara memberikan surat kelulusan. Sementara dalam syarat penerimaan, sejumlah berkas yang harus diupload meminta ijazah. Belum lagi masalah akreditasi yang tidak semua perguruan tinggi sudah berusaha sekuat tenaga. Para sarjana seringkali dirugikan akibat program studi yang mereka ikuti belum terakreditasi secara sempurna. Ijazah yang diperoleh dari lembaga pendidikan demikian, juga tidak akan dapat dipakai dalam meraih peluang kerja. Khususnya untuk kebutuhan yang mensyaratkan sejumlah bukti formal, dengen menekankan pada kualifikasi akreditasi tertentu, akan menyisihkan mereka yang tidak berada dalam kategori demikian.

Hal lain yang harus diingat, gelar itu diraih dengan penuh ketekunan, walau bukan berarti tidak terjadi sebaliknya. Terbongkarnya sejumlah tempat yang memperdagangkan ijazah palsu, misalnya. Orang yang bertipe gila gelar, tidak malu-malu untuk meletakkan gelar-gelar palsu dalam namanya –termasuk gelar yang diperoleh dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan kualifikasi yang diharapkan. Tidak sedikit lembaga pendidikan yang dengan mudah memperdagangkan gelar lewat berbagai cara. Ada yang dinamakan dengan kelas singkat, kuliah jarak jauh, belajar dengan jalur online, dan sebagainya. Ketika sudah pada masanya, lalu diundang untuk mengikuti wisuda.

Kedua, terbongkarnya dugaan pemberian menurut selera ijazah level doktoral satu kampus penting di Indonesia. Ini terjadi di kampus negeri. Seorang guru besar bisa membimbing mahasiswa hingga seratus disertasi dalam setahun. Entah bagaimana bisa. Orang-orang sibuk pun banyak yang kuliah di sini, yang sistem pelaksanaan perkuliahan juga entah seperti apa.

Temuan semacam itu, bukan pertama terjadi. Dalam dunia pendidikan, praktik plagiat merupakan hal lain yang terkait dengan proses demikian. Karya tulis diselesaikan dalam waktu yang singkat, padahal proses penelitian sendiri membutuhkan waktu yang normal dan masuk akal. Ketika penelitian tidak dilaksanakan dalam waktu yang normal, bukankah yang dihasilkan kurang lebih menyerupai karya-karya yang dicomot dari kanan-kiri? Atau karya yang berbasis ilmiah, namun yang terjadinya adalah mengandalkan imajinasi belaka.

Corak lain yang menyerupai ini, ketika banyak jasa pembuatan karya tulis bagi mahasiswa, entah mahasiswa sarjana, magister, atau doktoral. Pengumuman banyak tertempel di pohon-pohon pinggir jalan. Atas nama jasa analisis karya atau semacamnya. Belum lagi pada keterlibatan orang dalam hal order karya tulis semacam ini.

Temuan akan adanya berbagai praktik tersebut, menggambarkan awan gelap masih menghinggap pendidikan kita. Awan gelap ini pertanda adanya masalah serius dalam pendidikan yang harus diselesaikan. Apabila orang-orang –terutama mereka yang mengurusipendidikan tidak merasakan ini sebagai masalah, maka ada faktor kesehatan yang mesti diuji.

Selepas pendidikan orang berhak menyandang gelar yang diperoleh dengan jalan paripurna. Dengan pendidikan yang demikian yang berhak menabalkan gelar pada namanya. Jangan menggunakan gelar kalau sekiranya didapat dengan penuh kepalsuan, apalagi dengan proses jual-beli di pinggir jalan.[]