Setelah mengikuti FGD, Rahmat beryakinan Bekraf Pusat akan memberikan pembinaan yang lebih untuk Kabupaten Bireuen.
“Kami yakin, karena Kabupaten Bireuen sudah memiliki beberapa produk kreatif, sebagian produk unggulan yang diharapkan Bekraf,” sebut Rahmad.
Posisi geografis Kabupaten Bireuen di lintas segi tiga emas Aceh, juga sudah tercatat dalam sejarah seni dan kebudayaan yang penuh kreatifitas, seperti kesenian seperti Rabbani Wahed, Rapai Pulot Geurimpheng, seni pertunjukan drama teater Sinar Harapan, Sinar Jeumpa serta pernah memiliki gedung pertunjukan bioskop,seperti Dewi Teather, Gajah Teater dan pusat Hiburan Rakyat(PHR) di lapangan Voa dan juga di Kuta Blang 'papar Sineas yang pernah mendapat penghargaan Jawara Dokumenter di Malang Film Festival.
Menurut Rahmat, dalam pengembangan pembentukan kota kreatif kedepan, agar selalu menjaga norma, etika serta tidak akan menghilangkan potensi budaya kearifan lokal masyarakat.hal ini diharapkan akan menumbuhkan pengerak ekonomi kreatif dalam menarik minat wisatawan untuk datang ke kabupaten Bireuen.
Jadi sangatlah wajar kalau harapan bila Bireuen bisa dijadikan salah satu daerah pembinaan program Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) pusat, yang sedang melakukan pemetaan berbagai potensi sumber ekonomi kreatif di setiap wilayah.
“Dalam FGD yang digagas Umuslim ini, sangat bagus. Diharapkan bisa mewadahi jejaring pelaku maupun komunitas yang selama ini tercerai berai dengan dunianya sendiri, kita cari solusi bagaimana menyusun branding untuk di isi kegiatan kreatif dengan memamfaatkan ruang-ruang publik yang ada atau yang sudah terbengkalai, "jelas Rahmat Setiawan