Anak Muda, Jangan Lupakan Sejarah Aceh

18 Oct 2021 - 07:01
Jurnalisme Warga
2 dari 3 halaman

Selain makam Putro Ijo, terdapat juga makam-makam lainnya di sekitar lokasi yang merupakan anggota kerajaan Sultan Aceh Darussalam. Ternyata, makam ini sudah direposisi batu nisannya pada tahun 2013 dengan alasan rusak berat akibat gempa dan tsunami tahun 2004 silam. Begitulah informasi yang tertulis di komplek makam. Perjalanan yang memakan waktu beberapa menit dari pusat Kota Banda Aceh kemudian kami sampai ke destinasi tujuan. 

Dengan mengucap salam, masuklah kami di komplek makam Tuan Di Kandang. Kami berjumpa dengan sejumlah pekerja lapangan yang sedang membersihkan rumput yang mulai tumbuh memanjang. Tak ramai, mereka hanya 3 orang. Kami pun menyempatkan diri untuk berdiskusi bersama sembari menikmati kopi yang sudah disediakan. 

Di tengah asyiknya diskusi, lalu kami dihampiri oleh belasan mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) UIN Ar-Raniry. Akhirnya, mereka juga ikut bergabung berdiskusi dengan kami untuk saling membicarakan sejarah masa lampau. Kendati hanya pembicaraan yang sederhana, namun kami punya hajatan besar mengenang keberadaan Tuanku Di Kandang, sebagai ulama besar penggagas lahirnya Banda Aceh sebagai pusat Kerajaan Aceh ratusan tahun silam. “Kita mengenang orang-orang yang telah berjasa di Aceh, ini adalah sebuah pembelajaran yang berharga,” ujar saya sembari membuka diskusi kecil-kecilan ini. 

Sambil menyeruput segelas kopi, sesekali saya melirik di sekitar area makam dan terlihat di tengah-tengah kompleks makam terdapat banyak nisan kuno. Makam Tuanku Di Kandang juga diberi atap, pertanda makam ini adalah makam orang yang dimuliakan. Sekitar kurang lebih 1 jam kami bercengkerama dan melihat-lihat makam bersejarah tersebut, kami langsung berpamitan dengan pekerja di makam dan mahasiswa KPM dan langsung menuju makam Putro Ijo yang tak jauh berada dari lokasi Tuanku Di Kandang. Nisan-nisan terlihat tertata rapi, sebagian nisan tampak sudah tua dan juga banyak rumput-ruput hijau menyelimuti area makam.