Mustafa Ahmad, Camat Tegas yang Mengabdikan Diri untuk Pendidikan dan Adat di Aceh Selatan

Penulis, yang merupakan penggiat adat Aceh, mendapatkan informasi dari berbagai sumber lisan masyarakat Labuhanhaji dan Kluet Selatan, bahwa Mustafa Ahmad juga dikenal sebagai pejuang adat Aceh. Ia banyak menulis artikel, jurnal, dan menyusun buku tentang adat istiadat Aceh. Ia berkeyakinan bahwa adat bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi sebuah sistem nilai dan hukum sosial yang mampu menciptakan ketenteraman dan keadilan dalam masyarakat.
"Adat harus hidup, bukan hanya dalam seremoni, tapi dalam praktik hidup sehari-hari masyarakat Aceh," demikian prinsip yang sering ia sampaikan kepada generasi muda.
Menggerakkan Gotong Royong dan Melayani sebagai Akupunkturis
Selama menjadi camat, Mustafa Ahmad juga dikenal sebagai penggerak gotong royong. Ia menyatukan masyarakat dalam berbagai aksi sosial seperti pembangunan jalan, irigasi, dan fasilitas umum lainnya. Salah satu kisah yang masih dikenang adalah saat masyarakat bersama-sama membuka akses jalan dari Paya Dapur ke Lawe Sawah di Lembah Sekorong (Kluet Timur saat ini), menembus hutan belantara demi mengakhiri isolasi wilayah.
Selain itu, sejak 1985, ia juga dikenal sebagai seorang akupunkturis yang aktif membantu masyarakat dalam bidang kesehatan alternatif. Keahliannya digunakan secara ikhlas untuk pengobatan dan pelayanan kepada warga.
Kini di usia 89 tahun, Mustafa Ahmad masih menyimpan mimpi besar: menerbitkan sebuah buku berjudul "Adat Aceh Setelah Tahun 1621". Naskah tersebut telah melalui proses penyuntingan oleh almarhum Zamzami Surya, wartawan senior Aceh Selatan. Draft buku itu menjawab pertanyaan mendasar seputar adat, membedakan antara Adat Istiadat, Adat Kebiasaan, dan Hukum Adat, serta membahas peran strategis adat dalam kehidupan masyarakat Aceh.
“Buku ini bukan hanya hasil pemikiran, tetapi bentuk tanggung jawab moral dan sosial terhadap pelestarian adat Aceh,” ujar seorang kerabat dekat beliau.