Usung Layar 3D-Curved Tertipis Dunia dengan Harga Mulai Rp2,6 Juta

Infinix HOT 60 Pro+ Resmi Meluncur di Indonesia

26 Aug 2025 - 18:29
infinix hot 60 Pro+
1 dari 3 halaman

Koranindependen.co | Infinix resmi memperkenalkan seri terbarunya, HOT 60 Pro+, ke pasar Indonesia. Smartphone ini menarik perhatian karena diklaim memiliki layar melengkung 3D tertipis di dunia, dengan harga mulai dari Rp2,599 juta.

Menurut Sergio Ticoalu, Head of Marketing Infinix Indonesia, perangkat ini mengusung konsep Beautiful Beast: Tipis Tapi Sadis, menggabungkan desain super ramping dengan performa tinggi yang ditujukan untuk generasi muda yang mencari ponsel bertenaga sekaligus bergaya.

Ponsel ini mengandalkan layar AMOLED berukuran 6,78 inci dengan resolusi 1.5K dan refresh rate mencapai 144Hz, serta tingkat kecerahan puncak hingga 4500 nits. Layar juga sudah dilengkapi fitur perlindungan mata seperti SGS Low Blue Light, teknologi PWM Dimming 2304Hz, serta Sleep Aid Mode.

Dari segi performa, Infinix menyematkan chipset MediaTek Helio G200 berbasis proses 6nm, yang disebut mampu memberikan peningkatan performa CPU hingga 40% dan GPU hingga 75% dibanding pendahulunya. Pengalaman bermain game didukung oleh fitur Esport Pro Engine, Hard Gyro, dan sistem pendingin Vapor Chamber setipis 0,33mm.

Untuk sektor kamera, HOT 60 Pro+ membawa sensor utama 50MP Sony IMX882 yang didukung teknologi AI RAW Masterpiece Engine, sementara kamera depan 13MP sudah mendukung fitur seperti Super Night Mode, Dual Video, dan Vlog Mode.

Ponsel ini dibekali baterai 5160mAh dengan dukungan 45W FastCharge, yang diklaim mampu mengisi daya dari 1% ke 50% hanya dalam 22 menit. Sistem pengisian turut dilengkapi perlindungan seperti Overnight Charging Protection dan Liquid Detection, serta daya tahan baterai yang diklaim tetap optimal hingga 1800 siklus pengisian atau sekitar 5 tahun.

Terkait

DEMA FUF dan HmI Ushuluddin Gelar Diskusi Publik Menilai Kejujuran dan Kinerja Pemerintah Aceh Banda Aceh | Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ushuluddin (DEMA FUF) bekerja sama dengan HmI Komisariat Fakultas Ushuluddin menggelar Diskusi Publik di Warkop MK Kupi Premium, Ulee Kareng, pada 25 November 2025. Kegiatan ini mengusung tema “Menilai Kejujuran dan Kinerja Pemerintah Aceh dalam Politik Perjuangan Aceh.” Dalam forum tersebut, panitia menghadirkan dua pemantik diskusi, yakni Zulfata Al-Ghazali (Direktur Lembaga Inovasi Indonesia) serta Tengku Raja Aulia Habibi (Presiden Mahasiswa UIN Ar-Raniry). Keduanya memberikan pandangan kritis terkait dinamika politik Aceh dan kualitas tata kelola pemerintah daerah Ketua DEMA FUF, Zuhari Alvinda Haris, menyampaikan apresiasinya terhadap para pembicara yang dinilai berhasil mendorong peserta untuk berpikir lebih kritis terhadap kebijakan Pemerintah Aceh. “Saya senang melihat bagaimana penyampaian para pemantik mampu menghidupkan diskusi hari ini. Seluruh keresahan peserta terkait isu-isu aktual di Aceh dapat disampaikan secara lugas,” ujar Zuhari, Selasa, 25 November 2025. Ia menambahkan, seharusnya terdapat perwakilan DPR Aceh yang turut hadir sebagai representasi legislatif. Namun, ketidakhadiran tersebut disebabkan oleh agenda rapat anggaran jelang paripurna DPRA pada 28 November 2025. Sementara itu, Ketua HmI Komisariat Ushuluddin juga menilai kegiatan ini sebagai langkah awal penguatan budaya intelektual mahasiswa. “Diskusi publik seperti ini penting untuk dirawat sebagai ruang pergerakan mahasiswa. Idealnya dilakukan secara berkala, setidaknya seminggu sekali agar semangat perjuangan dan kesadaran kritis tetap terjaga,” ungkapnya. Di balik penyelenggaraan diskusi ini, panitia menegaskan bahwa ruang-ruang seperti ini merupakan upaya membebaskan mahasiswa dari belenggu ketakutan untuk terlibat dalam perumusan arah kebijakan daerah. Selain itu, forum semacam ini menjadi wadah penting untuk menyalurkan aspirasi masyarakat yang seringkali tidak tertampung dalam mekanisme formal pemerintahan. Pada akhirnya, mahasiswa menegaskan kembali perannya sebagai perpanjangan tangan rakyat dalam mengawal stabilitas dan integritas kebijakan publik. Mereka menolak anggapan bahwa mahasiswa tidak layak dilibatkan dalam proses kebijakan. “Mahasiswa adalah agent of change, bukan ‘agent of peng’,” tegas Presiden Mahasiswa UIN Ar-Raniry. Maka dari itu, mahasiswa wajib menilai bagaimana kejujuran dan kinerja pemerintah Aceh dalam fase kepemimpinan sekarang. Dan mahasiswa harus sadar akan posisi yang dimilikinya. Zuhari menyampaikan kekecewaan terhadap pemerintah Aceh, karena tidak ada satupun dari pemerintah dan legislatif yang dapat berhadir. "Pada diskusi ini jelas pihak pemerintah tidak bisa memberikan kejelasan yang jujur kepada publik, karena kami sudah mencoba menghubungi pihak pemerintah dan legislatif untuk bisa berhadir dalam diskusi publik ini. Dan jelas publik ingin tahu bagaimana kejujuran pemerintah Aceh dalam bekerja untuk rakyat Aceh. Dan jujur pemerintah Aceh takut mengungkap kebenaran" Jelasnya. Oleh karena itu, Patut menjadi tanda tanya bagi masyarakat, apakah pemerintah Aceh sekarang telah menjalankan fungsi mereka sebagai pemimpin dan perwakilan rakyat di pemerintahan atau tidak. Bahkan mereka takut untuk menjelaskan kepada masyarakat bagaimana kinerja yang sebenarnya dari pemerintah Aceh sekarang ini.