Antara Ancaman Perbudakan Digital dan Peluang Meningkatkan Literasi Teknologi

GenAI dalam Pendidikan

27 Aug 2025 - 18:37
1 dari 3 halaman

Koranindependen.co | Temuan tim peneliti neurosains dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), seperti yang tertuang dalam studi Your Brain on ChatGPT: Accumulation of Cognitive Debt when Using an AI Assistant for Essay Writing Task (Kosmyna et al., 2025), sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Hal ini mengingat sudah ada berbagai studi sebelumnya yang menyoroti dampak negatif penggunaan ChatGPT, seperti yang diungkap oleh Bogost (2024), Lee (2023), dan Lo (2023). Namun, sorotan media yang begitu luas terhadap studi ini menunjukkan adanya kekhawatiran publik yang mendalam mengenai dampak buruk GenAI terhadap kehidupan manusia. Teknologi yang semula dianggap sebagai motor kemajuan, kini justru dinilai dapat mengancam keberlangsungan peran manusia, sebagaimana diperingatkan oleh Yuval Noah Harari dalam bukunya Nexus (2024).

Ketergantungan berlebihan terhadap GenAI berpotensi menjerumuskan manusia ke dalam bentuk baru dari perbudakan digital. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, dalam pidato ilmiahnya di Universitas Negeri Semarang, menegaskan bahwa penggunaan AI secara berlebihan justru dapat menumpulkan daya pikir dan menumbuhkan sikap malas, alih-alih meningkatkan kreativitas dan nalar kritis.

Kecanggihan GenAI yang memungkinkan sistem ini mengambil alih sebagian besar tugas manusia mengakibatkan banyak individu kehilangan kemampuan dasar yang sebelumnya dimiliki.

Dalam menghadapi tantangan ini, dunia pendidikan memegang peran penting. Di tengah kemajuan teknologi yang pesat dan godaan untuk bersikap instan, pendidikan harus mampu bersikap kritis dan tetap berfungsi sebagai penjaga nilai-nilai kemanusiaan dan pengembangan potensi individu secara menyeluruh.

Sikap manusia terhadap teknologi sebenarnya tidak banyak berubah dari waktu ke waktu. Sheridan dan Verplanck (1978) mengembangkan konsep sepuluh tingkat otomatisasi, mulai dari level di mana mesin tidak memberi bantuan sama sekali, hingga tingkat tertinggi di mana mesin sepenuhnya mengambil keputusan tanpa campur tangan manusia. Semakin tinggi levelnya, semakin kecil keterlibatan manusia dalam proses tersebut.

Ambil contoh penggunaan sistem navigasi GPS. Dulu, orang mengandalkan ingatan dan membaca penunjuk arah. Namun setelah terbiasa menggunakan GPS, banyak orang tidak lagi mampu menavigasi tanpa bantuan perangkat tersebut. Ini menunjukkan bagaimana teknologi secara perlahan mengikis keterampilan kognitif manusia.

Kondisi serupa juga terjadi dalam dunia pendidikan. Misalnya, ketika seseorang pertama kali mencoba menggunakan ChatGPT untuk mencari inspirasi menulis esai, awalnya mungkin hanya sebagai alat bantu. Namun, ketika hasil AI dirasa lebih baik daripada tulisan sendiri, muncul rasa minder dan akhirnya ketergantungan. Ini berujung pada penurunan kemampuan menulis karena lebih memilih menyerahkan tugas sepenuhnya kepada AI.