Antara Ancaman Perbudakan Digital dan Peluang Meningkatkan Literasi Teknologi
GenAI dalam Pendidikan
Oleh sebab itu, sistem penilaian di sekolah dan perguruan tinggi perlu segera diperbarui agar tetap sesuai dengan perkembangan zaman. Guru dan dosen harus mampu merancang metode evaluasi yang melampaui model konvensional. Jika penilaian hanya berupa esai tertulis, maka siswa akan tergoda untuk menggunakan ChatGPT. Sebaliknya, bila pengajar juga menggunakan AI untuk menilai, maka proses belajar kehilangan makna dan interaksi antara guru dan siswa menjadi minim.
Ini mengingatkan kita pada praktik perjokian di masa lalu, di mana mahasiswa setidaknya masih membaca bahan dan menyiapkan diri untuk sidang. Dalam konteks AI, jika tidak diantisipasi, siswa bisa lebih pasif karena seluruh proses belajar digantikan oleh teknologi.
Maka dari itu, ada beberapa strategi penting yang bisa dilakukan. Pertama, desain asesmen harus dialihkan dari soal hafalan ke proyek atau pemecahan masalah yang mengandalkan kemampuan berpikir tingkat tinggi sesuai dengan taksonomi Bloom. Kedua, evaluasi lisan seperti wawancara bisa menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada AI dan meningkatkan keterlibatan siswa. Ketiga, guru dan dosen perlu menyusun rubrik penilaian yang mengukur kemampuan berpikir kritis, bukan sekadar penguasaan materi.
Akhirnya, penggunaan GenAI dalam pendidikan bukanlah sesuatu yang bisa dihindari. Solusi terbaik adalah dengan mendidik siswa untuk menggunakan teknologi ini secara bijak dan bertanggung jawab. Larangan semata tidak akan efektif, karena siswa masih bisa mengakses AI secara diam-diam, sementara alat pendeteksi AI belum sepenuhnya dapat diandalkan (Dalalah & Dalalah, 2023; Liang et al., 2023).
Alih-alih melarang, strategi yang lebih tepat adalah menanamkan literasi teknologi, mengarahkan penggunaan GenAI sebagai alat bantu, dan memastikan bahwa manusia tetap menjadi subjek utama dalam proses belajar dan berkarya. [aga]