Antara Ancaman Perbudakan Digital dan Peluang Meningkatkan Literasi Teknologi

GenAI dalam Pendidikan

27 Aug 2025 - 18:37
2 dari 3 halaman

Namun, fenomena seperti ini bukanlah hal baru. Sebelum hadirnya GenAI, praktik "perjokian" dalam penyusunan skripsi, ujian masuk, dan tes bahasa Inggris sudah dikenal luas. Bedanya, kini peran joki manusia telah digantikan oleh kecerdasan buatan. Masalah utamanya tetap sama: ketergantungan berlebihan dan minimnya keterlibatan pribadi dalam proses belajar.

Karena itu, penting untuk membangun sikap appropriate reliance, atau ketergantungan yang tepat terhadap teknologi. Sikap ini didasarkan pada dua prinsip utama: calibrated trust (kepercayaan yang terukur) dan situational awareness (kesadaran terhadap konteks). Menurut Lee dan See (2004), calibrated trust berarti mengetahui dengan tepat bagaimana teknologi bekerja, tujuannya, serta sejauh mana keandalannya. Sementara situational awareness, menurut Endsley dan Garland (2000), mengacu pada kemampuan memahami apa yang sedang dilakukan oleh sistem, alasan di baliknya, serta dampaknya terhadap situasi.

Dengan menerapkan dua prinsip tersebut, manusia tetap dapat menjadi pengendali utama dalam memanfaatkan teknologi untuk menunjang aktivitas berpikir dan berkarya.

Sebagaimana dalam proses menulis buku, penulis tetap menjadi aktor utama meskipun mendapat bantuan dari editor, ilustrator, hingga penyelaras bahasa. Bantuan itu bukan untuk menggantikan peran penulis, melainkan memperkuat kualitas hasil akhir. Demikian pula penggunaan GenAI seharusnya diarahkan untuk memperkaya proses berpikir, bukan menggantikannya.

Penggunaan GenAI secara berlebihan jelas memiliki konsekuensi. Ketika seseorang menyerahkan seluruh proses penulisan kepada ChatGPT, maka hilanglah rasa kepemilikan dan kebanggaan terhadap karya itu. Hal ini sejalan dengan hasil riset tim MIT yang menunjukkan menurunnya aktivitas otak saat menulis dengan bantuan AI.

Pada dasarnya, teknologi diciptakan untuk memperbaiki hasil kerja manusia, bukan mengambil alih sepenuhnya. Grammarly, misalnya, bertugas membantu memperbaiki tata bahasa, bukan menciptakan isi tulisan.

Dalam dunia pendidikan, jika penggunaan GenAI tidak dikendalikan, maka potensi penurunan daya kritis siswa menjadi nyata, sebagaimana disampaikan dalam riset Kosmyna. Menurutnya, waktu penggunaan GenAI menjadi faktor penting. Jika siswa terlebih dahulu diberi kesempatan untuk memahami materi dan menyusun ide secara mandiri, maka AI akan lebih bermanfaat. Hal ini dijelaskan dalam artikel Education Week (26 Juni 2025) yang bertajuk Brain Activity Is Lower for Writers Who Use AI. What That Means for Students.