Koranindependen.co | Ketika pemerintah pusat memangkas dana daerah dan daerah merespons dengan menaikkan pajak, siapa yang paling menderita? Jawabannya jelas: rakyat kecil.
Petani di desa harus membayar pajak tanah yang melonjak, padahal harga gabah tak pernah naik secepat itu. Buruh pabrik harus mengencangkan ikat pinggang, sementara upah minimum stagnan dan biaya hidup terus menanjak. UMKM, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi rakyat, terjepit antara biaya produksi yang naik dan daya beli konsumen yang melemah.
Kebijakan fiskal yang tidak sensitif terhadap kondisi lapangan pada akhirnya menciptakan rantai penderitaan. Pajak yang naik bukan sekadar angka di kertas, melainkan berkurangnya piring nasi di meja makan, anak-anak yang harus menunda sekolah, atau usaha kecil yang gulung tikar.
Ironisnya, di saat rakyat kecil dipaksa berhemat, elit politik tetap bergelimang fasilitas. Di sinilah letak ketidakadilan yang membuat rakyat turun ke jalan. Mereka tidak hanya menuntut soal pajak, tetapi juga menuntut keadilan sosial yang semakin kabur di negeri ini.