“Adat bukan sekadar upacara, tetapi napas kehidupan orang Aceh. Di dalam adat terdapat nilai agama, moral, dan sosial yang menyatu menjadi pedoman dalam bermasyarakat. Melalui pelatihan ini, kita ingin meneguhkan kembali pemahaman generasi muda terhadap makna dan tata cara adat, khususnya dalam narit meujeulih, sebuah prosesi yang sangat sakral dalam adat perkawinan Aceh,” ujar Tgk. Idris Thaib.
Ia juga mengingatkan bahwa pelestarian adat tidak bisa hanya diserahkan kepada orang tua atau tokoh senior, melainkan harus diwariskan secara sadar kepada generasi muda.
“Pemuda adalah pewaris adat. Jika mereka tidak memahami akar tradisinya, maka pelan-pelan identitas Aceh akan memudar. Karena itu, pelatihan seperti ini penting untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap warisan budaya dan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari,” lanjutnya penuh semangat.
Dalam penutup arahannya, T. Idris Thaib berpesan agar para peserta menjadikan kegiatan ini sebagai ladang pengabdian dan amal jariyah bagi pelestarian adat dan syariat di bumi Aceh Utara.