"Adat dan agama ibarat dua sisi mata uang. Tidak bisa dipisahkan. Ketika adat kita hidup, maka syariat pun akan tegak. Mari kita jaga dan wariskan adat dengan ilmu, adab, dan ketulusan hati,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia yang juga Ketua Sekretariat MAA Aceh Utara, Rahmadi, SE, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kelanjutan dari program tahun sebelumnya yang berfokus pada pelatihan MC adat perkawinan. Tahun ini, peserta dibekali kemampuan memahami dan melaksanakan prosesi narit meujeulih, yang merupakan simbol penghormatan, kehormatan, dan kesopanan dalam adat meukawen Aceh.
Melalui pelatihan ini, ia berharap lahir pemuda pelopor adat yang tidak hanya mampu memahami prosesi adat, tetapi juga menjiwai nilai-nilai luhur di baliknya, menjadi penjaga marwah, kehormatan, dan identitas budaya Aceh di tengah derasnya arus modernisasi. (Murhaban)