Refleksi Banjir Bandang Sumatera dan Krisis Tata Kelola Lingkungan

Ayahwa Bi Kacang Dua Neuk

5 Dec 2025 - 20:08
Yusrizal Ibrahim Lamno, Warga Banda Aceh yang Peduli pada Kemaslahatan Bangsa (Foto: Ist.)
3 dari 3 halaman

Dalam kondisi demikian, standar respons seharusnya bukan lagi “menunggu klarifikasi,” melainkan deklarasi cepat status bencana nasional agar mobilisasi logistik, tenaga, dan komando terpadu dapat berjalan dalam skala penuh. Respons pemerintah yang lambat hanya mempertegas bahwa kita belum belajar dari rangkaian bencana serupa di masa lampau.

Belajar dari Lagu Permainan Anak-anak

Jika syair lama itu diplesetkan hari ini, kira-kira begini bunyinya:

"Pak tua beri status bencana ini / Dengan tepat, terukur, dan akurat / Jika meleset dan tak akurat / Akan ku hujat sejuta kali." Esensi pesannya sama: ketepatan bukanlah kemewahan; ia adalah kewajiban moral dan administratif, apalagi ketika nyawa manusia dipertaruhkan.

Lagu permainan anak-anak tahun 1960-an itu mengingatkan kita bahwa “kekeliruan satu butir” saja bisa berujung pada hukuman berlipat. Dalam konteks negara, kekeliruan itu berarti hilangnya nyawa, tergerusnya kepercayaan publik, dan rusaknya ekosistem dalam rentang waktu yang tak bisa lagi dipulihkan.

Ukuran adalah Etika

Bencana banjir bandang Sumatera bukan hanya tragedi alam -- ia adalah refleksi telanjang dari etika yang hilang dalam pengelolaan sumber daya dan respons bencana. Lagu sederhana yang dulu dinyanyikan anak-anak di lorong-lorong Kampung Sentosa, menegaskan prinsip yang seharusnya menjadi dasar setiap kebijakan publik: tepat, terukur, dan proporsional.

Jika negara dan korporasi gagal memenuhi ukuran itu, maka masyarakatlah yang menerima “tamparan” paling keras. (* Penulis adalah pemerhati sosial, seni, budaya, dan politik)