Di sisi lain, struktur penduduk bekerja di Aceh masih didominasi oleh tenaga kerja berpendidikan menengah. BPS mencatat tamatan SMA menjadi kelompok terbesar dalam struktur penduduk bekerja pada Mei 2026, dengan proporsi 36,76 persen.
Sementara pekerja dengan pendidikan D4/S1 ke atas hanya sekitar 14,16 persen dari keseluruhan penduduk yang bekerja.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara pertumbuhan lulusan pendidikan tinggi dengan kemampuan pasar kerja dalam menyerap tenaga kerja berpendidikan tinggi.
“Struktur ini sudah bertahun-tahun seperti ini. Pasar kita belum banyak berubah, sementara lulusan kampus terus bertambah. Ini yang perlu dipikirkan bersama,” kata Agus.
Struktur ekonomi Aceh turut memengaruhi kondisi ketenagakerjaan tersebut. Pada Mei 2026, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi lapangan usaha dengan penyerapan tenaga kerja terbesar, yakni mencapai 39,31 persen.
Kemudian sektor perdagangan besar dan eceran menyerap 14,77 persen tenaga kerja, sedangkan sektor industri sekitar 7,12 persen.
Pada saat yang sama, sebagian besar pekerja Aceh masih berada di sektor informal. BPS mencatat sebanyak 62,12 persen pekerja berada di sektor informal, sementara pekerja formal mencapai 37,88 persen.
Dominasi sektor informal tersebut menjadi tantangan bagi lulusan perguruan tinggi yang umumnya mengharapkan pekerjaan sesuai dengan bidang pendidikan dan tingkat kualifikasinya.
Agus menilai banyak lulusan perguruan tinggi pada akhirnya memasuki pekerjaan yang tidak secara khusus membutuhkan kualifikasi sarjana.
“Banyak lulusan yang akhirnya masuk ke pekerjaan yang sebenarnya tidak membutuhkan kualifikasi sarjana. Ini yang membuat produktivitas dan tingkat kesejahteraan lulusan tidak sebanding dengan investasi pendidikannya,” ujarnya.