Sarjana Makin Banyak, Lapangan Kerja Terbatas: Ini Potret Pengangguran Aceh

10 Sep 2026 - 13:29
3 dari 3 halaman


Tingginya pengangguran lulusan perguruan tinggi juga menunjukkan adanya persoalan ketidaksesuaian atau mismatch antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan pasar kerja.


Namun, Agus menegaskan BPS berada pada posisi menyajikan data, sedangkan kebijakan untuk mengatasi persoalan tersebut menjadi tanggung jawab pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha.
“Kami menyediakan angkanya. Soal kebijakan, itu ada di tangan pemerintah, kampus, dan dunia usaha. Yang jelas, datanya menunjukkan ada jarak yang perlu dijembatani antara kualitas lulusan dan kebutuhan lapangan kerja,” katanya.


Aceh memiliki basis angkatan kerja sekitar 2,67 juta orang. Namun, struktur lapangan pekerjaan masih kuat pada sektor pertanian, perdagangan, dan pekerjaan informal.


Kondisi tersebut membuat sebagian lulusan perguruan tinggi menghadapi sejumlah pilihan, mulai dari menerima pekerjaan yang tidak sesuai dengan bidang keahlian, berpindah ke sektor lain, menciptakan usaha sendiri, hingga menunggu pekerjaan yang dianggap sesuai dengan kualifikasinya.


Persoalan ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha. Tantangan pendidikan Aceh tidak lagi sekadar meningkatkan jumlah masyarakat yang berhasil memperoleh gelar sarjana, tetapi juga memastikan lulusan memiliki akses terhadap lapangan kerja yang sesuai dengan kompetensi mereka.


Perguruan tinggi dinilai perlu memperkuat keterhubungan antara program studi dengan kebutuhan industri serta potensi ekonomi masa depan. Pemerintah juga dituntut membangun ekosistem yang mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja berkeahlian tinggi, sementara dunia usaha perlu didorong untuk memperluas kesempatan kerja dengan produktivitas dan nilai tambah yang lebih besar.


Agus menegaskan, persoalan tersebut perlu menjadi perhatian bersama agar peningkatan jumlah lulusan perguruan tinggi tidak berujung pada bertambahnya angkatan kerja yang kesulitan memperoleh pekerjaan.
“Pendidikan tinggi itu bagus. Tapi kita harus mulai berpikir ulang, mau ke mana lulusan-lulusan ini setelah wisuda. Kalau tidak ada ruangnya, maka kita hanya mencetak angkatan kerja baru yang mengantre,” pungkasnya. [*]