Bukan Tapal Batas Sebagai Solusi, Tapi Malapetaka yang Terjadi

Redaksi 12 Agustus 2020 | 22:31 164
Bukan Tapal Batas Sebagai Solusi, Tapi Malapetaka yang Terjadi

Ade Firman Mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Oleh Ade Firman 
Mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Baru-baru ini mencuat lagi di media menyoal tapal batas antara kampus Unsyiah dan UIN Ar-Raniry, permasalahan ini sebelumnya juga terjadi. Tapi, menurut pantauan saya permasalahan sudah menyebar kemana-kemana.

Pemberitaan media seakan bising terdengar karena konflik kedua kampus yang akan melahirkan calon pemimpin di masa yang akan datang. Sudahlah, cukup sampai disini saja, buang semua ego.

Jangan sampai gara-gara masalah ini terjadi malapetaka bukan pada para pimpinan kampus saja, tapi juga malapetaka akan terjadi pada mahasiswa. Jangan jadikan mahasiswa sebagai korban konflik, apalagi sekarang masa pandemi mari sama-sama gotong royong untuk melawan corona, jangan timbulkan kebencian antara sesama.

Sudah cukup berkonflik, mari duduk dan fikirkan solusi, sesama intelektual pasti berfikir ke depan. Jangan sampai gara-gara ini atau problem ini jadi kemunduran intelektual pada lingkungan Kopelma Darussalam.

Kopelma Darussalam adalah tempat pencetak para pemimpin masa depan. Merekalah (mahasiswa) yang akan memegang tongkat estafet ke depan.

Maka, saya mohon kepada petinggi atau pimpinan kampus untuk saling berfikir, saling akur dan nampakkan teladan yang baik untuk generasi ke depan. 

Sayang kan bila generasi rusak gara-gara masalah ini. Masalah tapal batas kan bisa bangun dialog sama-sama, apalagi sekarang masih ada sesepuh atau orang tua yang tau sejarah Kopelma Darussalam itu, tanyakan kepada mereka. Apa para pimpinan kampus tidak berfikir, kalau berita ini sudah menyebar.

Mungkin sekarang sudah di nasional, sangat memalukan. Kampus yang seharusnya sebagai tempat belajar dan menuntut ilmu sekarang malah ajang berkonflik dengan tapal batas.

Tapal batas bukan solusi tapi akan terjadi malapetaka. Jadi, bersiaplah bila masalah ini tidak selesai, maka kemunduran pada intelektual atau ilmuwan yang ada di lingkungan Kopelma Darussalam. 

Mari kita renungkan dan hayati sama-sama lagu Mars Darussalam.

DI PERSADA TANAH ISKANDAR MUDA 
DI BINA KOTA PELAJAR MEGAH 
DI GELAR DARUSSALAM SEJAHTERA 
TEMPAT PARA MAHASISWA 

MARI PUTRI.... MARI PUTRA.... 
BEKERJA SUKA DHARMA.... 
MARI PUTRI.... MARI PUTRA.... 
MEMBANGUN KOTA MAHASISWA 

DI JAGA GUNUNG SEULAWAH PERKASA 
PERGURUAN TINGGI UTAMA 
DI LINGKAR KRUENG ACEH PENUH SEJARAH 
BERTEKUN JADI SARJANA 

MARI PUTRI.... MARI PUTRA.... 
BEKERJA SUKA DHARMA.... 
MARI PUTRI.... MARI PUTRA.... 
MEMBANGUN KOTA MAHASISWA

Dari lagu atau mars di atas dapat kita ambil suatu kesimpulan, bahwasanya dulu para mahasiswa sama-sama gotong royong, saling bahu membahu membangun kota mahasiswa (Kopelma Darussalam).

Apakah sekarang bangunan yang sudah ada, di rusakkan begitu saja. Pasti orang-orang yang dirikan atau membangun Kopelma Darussalam sedih melihat kejadian seperti ini. Tapal batas adalah Malapetaka, keegoan bukan solusi. Nah !