Jejak Sejarah Aceh-Persia

Redaksi 30 Agustus 2020 | 16:28 120
Jejak Sejarah Aceh-Persia

Sumber Foto : Facebook Nasriati

Oleh Nasriati
Melaporkan dari Negeri Para Mullah (Republik Islam Iran)

Bermula dari lagu-lagu Rafli, seorang penyanyi kondang Aceh, yang kami dengar dalam perjalanan Banda Aceh-Samalanga. Waktu itu (tahun 2007), kami sekeluarga bermaksud beridulfitri di kampung halaman orang tua saya di Samalanga.

Lagu-lagu yang indah itu dilantunkan dalam bahasa Aceh. Suami saya yang tidak faham bahasa Aceh menikmati lantunannya. Pada, salah satu bait menimbulkan pertanyaan baginya. Berikut potongan baitnya.

………

“di nanggroe Persia troek neulangkah (dari Negeri Persia datang melangkah)

……………………………..

Meunan geu syareh dalam seujarah” (Begitu tertulis dalam sejarah)

…dan seterusnya..

Kata Persia itu menjadi pertanyaan,kenapa kampung halamannya disebut-sebut dalam lagu Aceh ini?” Saya diminta menterjemahkan lagu itu dan menjawab soal, “Bagaimana Aceh mengenal Persia?"

Aceh zaman dahulu adalah sebuah kerajaan mashur dan bandar peniagaan yang terkenal di Selat Malaka. Banyak pedagang dari berbagai penjuru dunia datang melakukan perdagangan sambil menyebarkan agama Islam. Islam hadir di Aceh dibawa oleh pedagang Persia (sekarang Iran) dan Gujarat (sekarang India) yang singgah di Perlak (Peureulak).

Itu ilmu yang saya dapatkan dari bangku sekolah dan buku-buku sejarah yang saya baca zaman sekolahan dulu, kini menjadi jawaban yang saya berikan atas pertanyaan suami saya.

Tak ada reaksi atas jawaban saya itu, hanya diam, pertanda jawaban tidak memuaskan. Meskipun tidak ada pertanyaan lanjutan, dalam hati saya bertekad untuk mencarikan jawaban yang lebih memuaskan. Jadilah ini pr saya

Masa cuti habis, suami sayapun kembali ke Persia. Beberapa bulan kemudian, saya memutuskan berhenti bekerja dan menyusul suami ke negeri itu, dengan membawa oleh-oleh cd Rafli seperti pesanannya. Juga pr yang belum terselesaikan masih tersimpan dalam hati dan pikiran saya.

Sayangnya, di Persia ini saya tidak mempunyai buku-buku yang bisa menjadi rujukan saya. Padahal di Banda Aceh, ada satu perpustakaan milik Prof.Ali Hasymi, yang saya yakin disitu saya bisa mencari jawaban atas pr tadi.

Tempatnya juga tidak jauh dari rumah saya. Juga pernah salah seorang rekan kerja menghadiahkan saya buku berjudul “Aceh”, itupun tidak sempat saya baca. Buku tersebut saya tinggal di Banda Aceh dan menjadi bahan bacaan giliran diantara keponakan saya. Kalau saja ketika di Banda Aceh, saya tidak terlalu sibuk bekerja, dan meluangkan sedikit  waktu untuk membaca buku itu dan juga mengunjungi perpustakaan Prof Ali Hasymi,tentu pr ini sudah bisa selesai.

Tulisan Fikar W Eda

Setiap hari saya mengusahakan untuk membaca harian Serambi Indonesia online, untuk mengetahui perkembangan yang terjadi di Aceh, kampung halaman saya. Beberapa hari yang lalu, dalam salah satu rubrik budaya, sebuah artikel berjudul “Silsilah Raja-raja Aceh” (tulisan Fikar W Eda) menarik perhatian saya.

Penulis artikel itu mengupas tentang buku silsilah raja-raja Aceh karangan Pocut Haslinda. Juga sedikit menceritakan isi buku tersebut. Dengan seksama saya baca tulisan itu. Alhamdulillah, tulisan itu menjadi jawaban atas pertanyaan suami saya yang sudah menjadi pr bagi saya lebih dari setahun lamanya. Berikut saya kutip disini (saya kutip yang berhubungan dengan Persia-Aceh saja, dan sudah saya singkatkan tulisannya)

Kisah kedatangan rombongan pedagang dari Persia di Blang Seupeung, pusat kerajaan Jeumpa yang saat itu masih menganut agama Hindu Purba.

Meurah Perlak

Salah seorang rombongan adalah putra kerajaan Persia yang ditaklukkan pada masa Khalifatuh Rasyidin, bernama Maharaj Syahriar Salman,keturunan Dinasti Sassanid yang pernah berjaya pada tahun 224-651 M. Syahriar menikah dengan putri istana Jeumpa bernama Mayang Seludang. Karena perkawinan ini Syahriar Salman memilih menetap di Perlak (sekarang Peurelak) salah satu kawasan kerajaan dibawah pimpinan Meurah Perlak

Meurah Perlak yang tidak mempunyai anak, menganggap pasangan ini sebagai “anak”. Ketika meninggal, menyerahkan kerajaan kepada Maharaj Syahriar Salman sebagai anak.

Dari perkawinan tersebut, mereka mendapatkan empat orang putra dan seorang putri. Mereka adalah Syahir Nuwi, Syahir Dauli, Syahir Pauli dan Syahir Tanwi dan seorang putri bernama Tansyir Dewi. Keempat putra tersebut kemudian menjadi raja pada wilayah yang berbeda di Aceh.

Syahir Nuwi menjadi raja di Perlak menggantikan ayahnya (bergelar Meurah Syahir Nuwi), Syahir Dauli menjadi Meurah di negeri Indra Purba (sekarang Aceh Besar). Syahir Pauli menjadi Meurah di negeri Samaindera (sekrang Pidie) dan Syahir Tanwi menjadi Meurah Jeumpa menggantikan kakeknya (kelak mereka dikenal dengan “Kaom Imuem Tuha Peut"-Penguasa yang empat).

Dengan demikian, kawasan sepanjang Selat Malaka di kuasai oleh keturunan Maharaj Syahriar Salman, keturunan sassanid Persia dan Dinasti Jeumpa (sekarang Bireuen).

Sementara Tansyir Dewi menikah dengan Sayid Maulana Ali Al-Muktabar, anggota rombongan pendakwah yang tiba di Perlak (tahun 173H/800M). Dari perkawinan itu menghadirkan seorang putra bernama Sayid Maulana Abdul Aziz-Syah, yang setelah dewasa bergelar Sultan Alaidin Sayid Maulana Abdul Aziz Syah, Sultan pertama kerajaan Islam perlak (bertepatan satu Muharram 225 H).

Sayyid Maulana Ali Al-Muktabar, merupakan putra dari Sayid Muhammad Diba’i anak Imam Jakfar Asshadiq (Imam syiah ke-6) anak dari Imam Muhammad Al Baqir (imam syiah ke-5) anak dari Sayyidina Ali Muhammad Zainal Abidin, satu-satunya putra Sayyidina Husen (cucu Rasullullah SAW) yang merupakan putra dari Sayyidina Ali bin Abu Thalib yang menikah dengan putri Rasullullah, Siti Fatimah.

Dengan penjelasan itu suami saya jadi faham bukan hanya hubungan Aceh dan Persia, tapi juga mengapa di Aceh banyak dijumpai nama-nama asli Persia seperti Syahriar, Bakhtiar, Darius, Mirza dan lain-lain.

Dan kini suami saya berkata “mutafaji shudam (saya sudah faham). Nah !