Sulaiman Tripa

Meutuka Tangke

Redaksi 21 Juli 2017 | 12:04 68
Meutuka Tangke

Sulaiman Tripa, Dosen FH Unsyiah

Untuk sementara, saya bertempat tinggal di sekitar Ajun. Kawasan ini, untuk urusan administrasi dan batas pemerintahan, termasuk dalam Kabupaten Aceh Besar. Namun ada urusan tertentu yang masuk ke dalam Kota Banda Aceh. Misalnya terkait dengan sejumlah urusan dari tugas dan fungsi kepolisian, masih dianggap sebagai bagian dari Kepolisian Kota. Dengan posisi Banda Aceh sebagai Polrestabes.

Di samping itu, perkembangan Ajun juga menarik. Kawasan ini terasa sepertinya ada pertambahan penduduk –setidaknya dirasa dengan semakin padatnya aktivitas di sini. Di pinggir jalan, ada juga pusat sampah yang belum sepenuhnya mampu ditangani. Setiap pagi, orang bisa melihat sampah yang menggunung. Ada dua sampai tiga kontainer di sana, juga tidak mampu menampung jumlah sampah tersebut. Beberapa kali saya lihat sampah tidak lagi dikerjakan oleh tenaga kebersihan, melainkan oleh kendaraan khusus excavator mini.

Logika sederhana, ketidakmampuan menampung sampah, merupakan aba-aba bahwa ada produksi sampah yang bertambah. Produksi sampah tersebut tentu dihasilkan oleh aktivitas yang juga meningkat. Tentu aktivitas ini salah satunya disebabkan jumlah penduduk yang makin meningkat.

Kemungkinan satu lagi, karena lokasi kontainer sampah yang strategis, dimanfaatkan oleh orang-orang yang ingin mudah. Sambil keluar rumah, kepentingan ke pasar atau ke kota, tinggal bawa sampah dan diletakkan di kontainer ini. Lalu ketika sudah menumpuh dan melewati satu hari, masalah lain muncul. Terutama bau yang tidak sedap. Sedangkan di sekelilingnya, juga terdapat sejumlah tempat orang yang berusaha di bidang makanan dan warung makan. Kondisi ini tidak baik bagi perkembangan usaha mereka. Belum lagi masalah potensi terjangkat penyakit yang diakibatkan oleh sampah tersebut.

Untuk mengurai masalah demikian, tidak cukup hanya dengan saling menyalahkan. Kenyataannya mereka yang membuang sampah ke sana juga harus bertanggung jawab. Jika dilihat ke belakang, tempat ini dasarnya bukan tempat sampah. Mula-mula ada sejumlah orang yang meletakkan plastik berisi sampah di sekitar ini. Lalu orang lain melihat dan melakukan hal yang sama. Pada akhirnya, muncul seperti kesepahaman bahwa itu sebagai lokasi tempat tampung sampah sementara.

Sulit dihentikan ketika semua orang sudah merasa berhak membuang sampah di sembarang tempat. Di banyak tempat yang bernasib sama, lalu muncul perasaan tidak nyaman dari warga sekitar. Bahkan pengumuman dengan kata-kata yang tidak pantas ditempel di sekitar tempat buang sampah, kadangkala tidak mampu lagi menghentikan orang untuk meletakkaan sampah secara diam-diam.

Hal yang disebut terakhir adalah masalah mental. Kesadaran untuk membuang sampah di tempat yang semestinya, masih sangat lemah. Bukankah ketika rendahnya kesadaran, justru sedang memperlihatkan perilaku kita yang tidak mau tahu kondisi orang lain yang di sekitarnya? Kita yang membuang sampah, akan menutup mata dan hati dan persetan dengan orang lain yang mencium baunya dari sampah yang kita buang. Pada tataran ini, sadarilah bahwa perasaan kita untuk bermanusia sudah mulai bisa dipertanyakan.

Sampah itu sangat kompleks. Bagi saya sama kompleksnya ketika berangkat ke kampus hampir tiap pagi, melewati banyak lampu mirah. Menyebutkan istilah lampu mirah tidak aneh bagi masyarakat awam di tempat kita, namun itu tidak tepat. Orang-orang yang memahami posisi lampu itu, akan memahaminya sebagai lampu lalu lintas. Istilah ini yang tepat traffic light. Lampu ini berisi tiga warna yang masing-masing memberi pesan tersendiri. Warna merah untuk berhenti, lalu kuning untuk jaga-jaga dan bersiap-siap untuk berhenti, sedang hijau baru jalan.

Sepanjang jalan yang saya lalui, tidak semua pesan itu bisa dibaca dengan cerdas. Orang memahami pesan yang disampaikan, tetapi sepertinya tidak memiliki kemampuan untuk mengikutinya. Hal ini juga tidak terkait dengan buta warna. Sepertinya orang-orang yang menerobos lampu lalu lintas, memahami betul bahwa lampu merah itu untuk berhenti.

Ketika seseorang menerobos lampu merah, yang harus disadari adalah potensi kecelakaan, karena di pihak lain ada yang sedang lampu hijau. Hal yang lebih esensi adalah kita yang menerobos lampu merah sama seperti pencuri yang mengambil hak orang lain secara semena-mena.

Akhir-akhir ini saya menjadi pengamat dadakan. Saya jadi paham lampu lalu lintas mana yang sering diterobos, atau yang mana yang tidak bisa kita berhenti, karena akan dihardik oleh sebagian pemakai jalan. Mengapa ada yang menghardik? Karena lampu sudah dianggap bukan lagi bagian dari konsensus orang-orang yang akan mempergunakan jalan raya. Ada yang jalan dan ada yang berhenti. Justru semua ingin jalan.

Ketika semua orang sudah berpikir bahwa merah tidak harus berhenti, maka sewaktu ada orang yang berhenti, orang-orang yang tidak ingin berhenti akan marah. Bahkan sikap marah ini bagi mereka sepertinya layak dilayangkan kepada orang yang mengikuti lampu lalu lintas.

Kondisi ini, bukankah tidak ada beda ketika orang dilarang buang sampah pada tempat tertentu, justru merasa sangat enak bisa membuangnya di tempat yang dilarang itu?

Aneh bagi kita sebagai masyarakat yang diklaim beradab. Dalam keseharian, kita seperti orang sakit, yang bukan saja masalah kemauan melakukan sesuatu secara benar dan lurus, melainkan juga masalah kesadaran untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Dalam kehidupan sosial, sikap anomali ini akan berbahaya dan akan merusak tatanan yang sudah terbangun berwaktu-waktu.

Dengan kehidupan semacam ini, tidak bisa dibedakan lagi corak tangke yang beragam. Masalahnya bukan pada beragamnya itu, tetapi pada pemaknaan orangnya yang bertukar-tukar.[]