Sulaiman Tripa

Pat Kuteken

Redaksi 18 Agustus 2017 | 19:02 54
Pat Kuteken

Sulaiman Tripa, dosen FH Unysiah

Suatu kali, saat menemani seorang teman yang memiliki kepentingan ke satu kementerian, saya melihat fenomena ganjil dan menyedihkan. Ganjil karena terjadi tidak biasanya. Menyedihkan karena terjadi dalam masyarakat kita. Kejadiannya saat duduk di ruang tunggu, jika tidak salah ingat, di luar sedang gerah.

Bersamaan dengan kunjungan kami, ternyata ada tim lain dari tanah kita. Sejumlah orang. Sekitar 10 orang. Saat itu juga ada tim dari salah satu kabupaten di Jawa, juga memiliki satu kepentingan di kementerian ini. Tim yang saya sebut terakhir ini, sepertinya perwakilan sejumlah sekolah yang memiliki suatu kepentingan, yang dikoordinir oleh –sepertinya—dinas terkait di sana.

Tidak berapa lama saya dan teman di sana, terlihat dua atau tiga orang yang membawa list absen beserta daftar uang transpor atau honor. Dari jauh, perkiraan saya, absen dan daftar uang transpor itu di atas kertas kop. Penegasan ini penting dikaitkan dengan orang-orang yang akan teken di atasnya. Dengan memiliki kop, seyogianya tidak ada orang yang bisa meneken sembarangan. Orang yang akan meneken, bisa memverifikasi sebelumnya. Toh kop surat cukup jelas menggambarkan dari pihak siapa empunya kepentingan itu.

Daftar hadir dan uang transpor itulah sampai hingga tempat duduk orang-orang yang berasal dari tanah kita. Perkiraan saya waktu itu, mereka yang memegang daftar ini –dua atau tiga orang yang tadi—tidak sepenuhnya bisa membedakan tim mereka dan tim orang lain. Sehingga absensi yang seharusnya hanya diedarkan untuk tim mereka, tiba-tiba diedarkan juga untuk orang yang tidak setim dengannya.

Mungkin juga mereka tidak sepenuhnya salah. Dengan ruang tunggu yang tidak begitu besar, terletak di lantai lima, membuat mereka berpikir tidak mungkin ada orang lain. Dengan kata lain, jam yang akan mereka tunggu pejabat yang diinginkan, hanya ada mereka di ruang tunggu itu.

Apa yang terjadi? Ternyata orang-orang dari tanah kita itu juga meneken daftar hadir dan honornya. Tentu, tak sekedar daftar honor, melainkan turut honornya yang dibungkus dalam amplop putih. Terus-terang, sejumlah orang kita yang meneken itu, saya tidak habis pikir bagaimana bisa mereka terus menekennya. Padahal mereka bisa melihat kop yang jelas tertera bukan instansi mereka. Mengherankan karena tidak ada sembarang sedikit pertanyakan untuk memastikan apakah itu benar-benar untuk mereka.

Tiba-tiba, ternyata mereka yang mengedar absensi itu sadar. Ketika ia lihat timnya sudah membengkak, sedangkan amplop yang tersedia terbatas. Mungkin jumlah amplop persis sama dengan orang yang akan hadir. Tidak lebih. Bisa dibayangkan ketika amplop tiba-tiba tidak cukup, padahal jumlah orang mereka tidak berubah.

Lalu mereka berdua atau bertiga mengevaluasi kembali. Dan mereka bisa membedakan dengan jelas. Pengedar absensi lalu menjumpai sejumlah orang kita yang menerima amplop itu. Seraya meminta maaf, lalu mereka meminta kembali amplop yang telah diberikan karena keliru orang. orang-orang kita yang menerima itu pun dengan malu-malu mengembalikan amplop yang entah berapa besar isinya.

Dengan senyum pahit antar sesama, sekejap mereka saling menebar pandangan. Entah perasaan apa yang ada pada orang-orang kita yang diminta kembali amplopnya itu. Amplop putih yang sudah dimasukkan ke kantong celana, lalu dikeluarkan kembali dan diberikan kepada pengedar absen.

Jika Anda pembaca, mengalami hal semacam itu, apakah Anda juga akan merasakan hal yang sama? Perasaan, ketika ia sudah dirasakan, pertanda kejadian yang sudah tidak bisa diulang. Suatu kejadian pahit yang sekiranya bisa diulang, pada corak kejadian itu, pasti akan memilih tidak mengambil. Ketika tahu ujungnya tidak baik, maka akan menjauhi –atau paling tidak memverifikasinya terlebih dahulu.

Di sinilah pentingnya merasa-rasa sesuatu secara sempurna ketika semuanya belum terjadi. Apalagi terkait dengan menerima amplop yang bukan hak kita. Tidak ada salahnya untuk memverifikasi untuk memastikan apakah itu benar-benar untuk kita. Hal ini penting untuk tidak membuat penyesalan di saat kemudian.

Seyogianya masalah teken, tidak langsung bertanya pat kuteken? Pertanyaan mengapa harus meneken, sangat penting untuk ditanyakan terlebih dahulu? Pat kuteken akan menempatkan seolah-olah semua hal itu menjadi haknya kita. Sedangkan mengapa harus meneken, sikap selalu menjaga-jaga agar tidak sembarangan menerima yang bukan hak kita. Ketika menerima sesuatu, pertanyaannya selalu harus menohok, bahwa benarkan itu hak kita? Lalu kewajiban apa yang sudah kita lakukan sehingga mendapat hak yang demikian?

Mentalitas pat kuteken ini mirip godaan yang selalu menghantui mentalitas manusia. Bahkan bukan hanya untuk yang diberikan alias disodorkan. Bahkan untuk hal-hal yang membutuhkan permintaan sekalipun akan ditahan malu untuk melakukannya. Ketika pada posisi demikian, sesungguhnya kita sebagai manusia sedang berada pada titik nadir peradaban.[]