Apa yang Salah dengan Indonesia

Redaksi 23 Mei 2020 | 14:01 56
Apa yang Salah dengan Indonesia

Sabrina Rahmah,

Oleh Sabrina Rahmah,
Mahasiswi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN AR-RANIRY Banda Aceh

Saat ini dunia masih dilanda kekhawatiran, semua masih berjuang menyatukan harapan, melawan kebiasaan dan saling menopang. Rasa-rasanya masih seperti mimpi, dimana beberapa waktu lalu kita masih bisa ketawa sana-sini. Kini, rasa-rasanya membuak bibir untuk tersenyum pun rasanya berat sekali. Bagaimana kita bisa tersenyum diantara duka dan luka saudara kita yang tengah berjuang melawan Covid-19. 

Inilah kenyataannya, hari dimana semua dipaksa untuk berubah. Yang awalnya bisa berjumpa, berjabat tangan kini semuanya dilakukan via virtual. Kita memang berada dalam teknologi yag maju, namun untuk beberapa alasan kita adalah makhluk sosial yang butuh sosialisasi.

Terhitung hampir 5 bulan Indonesia melawan pandemi ini, dan berbagai upaya telah dilakukan. Mulai dari pembatasan aktivitas hingga menerapkan pola hidup yang benar-benar baru.

Sayangnya, warga Indonesia sepertinya sudah lupa bahwa kita masih dilanda duka. Maraknya video yang beredar di media sosial menyebabkan beberapa warga Indonesia merasa prihatin dengan negeri ini. Bagaimana tidak, ketika pemerintah menetapkan kebijakan PSBB sebagian besar masyarakat bersikap masa bodoh dengan kebijakan tersebut. Hal ini dibuktikan dengan ramainya tempat perbelanjaan, pelabuhan, dan bandara yang tidak memerhatikan protokol kesehatan yang telah ditetapkan.

Sehingga banyak masyarakat yang merasa patah hati dan terkhianati dengan hal tersebut. Padahal mereka telah berusaha untuk mengikuti segala kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk memutus rantai penyebaran Covid-19.

Kejadian seperti ini membuat sebagian masyarakat merasa sia-sia dengan berada di rumah saja. Tidak hanya masyarakat biasa, tenaga medis bahkan juga merasa sia-sia dengan berbagai perjuangan yang telah dilakukan. Mereka rela memakai APD selama 8 jam, menahan BAK dan BAB, berbuka dengan waktu yang lebih lama, dan sahur yang lebih cepat demi merawat pasien.

Tidak heran, dengan adanya kejadian ini masyarakat mempertanyakan bagaimana keseriusan pemerintah dalam menangani kasus ini. Harusnya di tengah pandemi ini, pemerintah bersikap tegas namun yang dijumpai adalah terjadinya peraturan yang tumpang tindih sehingga dipertanyakan konsistensi pemerintah dalam menetapkan peraturan atau kebijakan selama pandemi ini. 

Rasa-rasanya wajar jika ada masyarakat yang merasa geram, marah, kecewa dengan ketidakpedulian sebagian besar masyarakat dalam menanggapi Covid-19 ini. Namun, yang perlu kita sadari adalah jangan sampai kejadian-kejadian seperti ini melunturkan komitmen kita dalam memerangi penyebaran wabah Covid-19.  Penting kita pahami bahwa, sosial distancing yang kita lakukan dengan tujuan yang sama namun memiliki pendorong yang berbeda.

Ada yang ingin segera mencari pekerjaan demi menghidupi keluarga, ada yang ingin bertemu dengan teman-teman dan kekasih, ada yang ingin berkumpul dengan teman-teman dekat, ada yang ingin wabah ini segera menghilang dari Indonesia. Namun, apapun pendorongnya kita harus mulai menyatukan komitmen dan bertahan dalam perjuangan agar setiap orang mampu memenuhi masing-masing pendorong yang dijadikan alasan. 

Perlu kita ingat bahwa pandemi ini merupakan sesuatu yang dapat ditangani secara kolektif dan dibutuhkan kontribusi semua orang dari berbagai pihak. Maka dari itu perlunya ada kesadaran, bahwa yang kita lakukan bukan demi diri sendiri, melainkan demi kelangsungan hidup orang banyak.

Untuk para tenaga medis yang sudah bertaruh nyawa, untuk para karyawan yang telah dirumahkan berminggu-minggu bahkan ada yang di PHK, untuk para pengusaha yang telah menutup usahanya, dan untuk bangsa dan negara yang telah mengalami kerugian dalam jumlah yang fantastis.

Kita perlu menanami bahwa apa yang kita lakukan adalah demi kepentingan diri sendiri dan demi orang-orang yang kita sayangi, sehingga tidak pernah ada yang sia-sia kita sudah menjaga diri dengan sebaik mungkin.

Kita bisa mulai memutu rantai penyebaran Covid-19 dari rumah, tidak ada yang sia-sia ketika kita masih bisa melihat wajah-wajah yang terkasih dalam keadaan sehat dan terjaga.

Ketika melihat wajah mereka, maka terbesit di dalam hati bahwa “Ini karena saya yang hari ini tidak melanggar apapun”. Kita sudah sejauh ini, sangat disayangkan apabila kita harus menyerah ketika sudah mendekati garis finis. Semoga !