"SOSOK YANG SANGAT TAKZIM KEPADA ULAMA"

Redaksi 12 Juli 2022 | 14:20 79

Teuku Taufiqulhadi, Ketua DPW Nasdem Aceh, membesuk Abu Tu Min di Malaysia. (Insert: H. Jamaluddin T. Muku, Tokoh Masyarakat Aceh)

Begitu mendengar Abu Tu Min Blang Bladeh (Teungku H. Muhamad Amin) sakit dan di rawat di salah satu Rumah Sakit di Kuala Lumpur, Dr. Teuku Taufiqulhadi, M.Si., Ketua DPW Partai Nasdem Aceh, pada hari Senin tanggal 11 Juli 2022 kemarin langsung terbang ke ibukota negara tetangga tersebut untuk membesuknya. Padahal saat itu masih hari raya Idul Adha. Mengapa?

Menurut Dr. H. Jamaluddin T. Muku, M.Si., salah seorang Tokoh Masyarakat Aceh yang tinggal disekitar Kantor DPW Nasdem Aceh, karena Teuku Taufiqulhadi sangat menyadari bahwa kedudukan Ulama dalam masyarakat Aceh sangatlah terhormat. Dalam masyarakat Aceh, Ulama memiliki status yang sangat mulia. 

Sebab, selain mengajar Agama, Ulama juga bekerja dalam berbagai aktifitas kehidupan masyarakat. Seperti mendidik masyarakat, memimpin ibadah, mendoakan dan menshalatkan jenazah, mendamaikan perselisihan, membantu pembagian harta warisan, memandu prosesi-prosesi adat-istiadat, dan sebagainya. 

Karena itu sudah sepatutnya Teuku Taufiqulhadi sebagai seorang Putera Aceh sangat menghormati dan menghargai para Ulama sebagai guru yang harus dipanuti.

“Di dalam Islam menghormati ulama adalah suatu keharusan, karena Ulama itu adalah pewaris para Nabi. Nabi tidak mewariskan uang ataupun harta-benda, tetapi Nabi mewariskan ilmu yang ditularkan melalui para Ulama,” kata H. Jamaluddin T. Muku.

Dan, menurutnya, Teuku Taufiqulhadi sangat menyadari bahwa kiprah Ulama dalam masyarakat Aceh bukan hanya sebagai pemimpin dan pengajar di bidang agama. Akan tetapi, Ulama juga memainkan peran dalam berbagai lini kehidupan masyarakat termasuk dalam bidang politik. 

"Bahkan pada masa lampau Ulama juga memimpin rakyat untuk berperang mengusir penjajah bersama-sama dengan Umara," lanjut H. Jamaluddin T. Muku yang pernah menjadi Anggota DPR Aceh 3 Periode, dari tahun 2004-2019 lalu.

Di dalam Agama Islam, Ulama adalah representasi dan sekaligus pengawal ajaran Al-Quran dan Al-Hadits, mendampingi Umara yang merupakan implementor dari kebijakan-kebijakan universal yang digariskan Ulama. Kedua-duanya saling bekerjasama bahu-membahu untuk mewujudkan masyarakat yang ideal, suatu masyarakat madani yang berjalan di atas landasan dan prinsip yang benar.

Terkait hal itu, ada sebuah Nariet Maja yang sampai saat ini masih kerap dilakoni dalam masyarakat Aceh, yaitu:

//Ta'zim keu guree meuteumee ijazah/
Ta'zim keu nangbah meuteumee hareuta/
Ta'zim keu Nabi meuteumee syafaat/
Ta'zim keu Hadzarat meuteumee syeuruga// 

(Yang kira-kira artinya adalah://Hormat dan patuh kepada guru memperoleh ijazah/Hormat dan patuh kepada Orang Tua memperoleh harta/Hormat dan patuh kepada Nabi memperoleh pertolongan di hari akhirat/Hormat dan patuh kepada Allah memperoleh Syurga//)

Dalam teks Nariet Maja tersebut, sangat jelaslah tersirat bahwa Ulama, sebagai Guree masyarakat yang juga sebagai penerus risalah Nabi, memang haruslah dihormati dan dipatuhi. 

Karena Ulama (bahasa Arab: العلماء, secara harfiah artinya orang-orang yang berilmu, para sarjana) adalah pemuka agama atau panutan agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah Agama maupun masalah sehari-hari yang diperlukan, baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan.

"Substansi dari Nariet Maja tersebut tak pernah lekang di memori Pak Taufiqulhadi. Walaupun Beliau, sejak masa kuliah sampai bekerja dan berkeluarga, telah puluhan tahun menetap di Pulau Jawa, namun petuah Endatu tersebut tak pernah dilupakan oleh Pak Taufiqulhadi." Ujar H. Jamaluddin T. Muku lagi.

Tampaknya nilai-nilai Nariet Maja itulah yang diaplikasikan oleh Teuku Taufiqulhadi sewaktu mendengar Abu Tu Min sakit dan dirawat di salah satu rumah sakit di negara jiran, sehingga dengan serta-merta Beliau segera pergi membesuknya di Kuala Lumpur, Malaysia. 

"Alhamdulillah, sewaktu Pak Taufiqulhadi tiba di sana, Abu Tu Min sudah mulai membaik dan sudah di bawa pulang ke rumah salah seorang santrinya di kawasan Batu Cave, Distrik Gombak, Negara Bagian Selangor, di sebelah Utara Kota Kuala Lumpur," lanjutnya lagi. 

"Selain membesuk, dalam momentum Idul Adha 1443 Hijriah ini, Pak Taufiqulhadi juga sekalian berhari raya bersama dengan Abu Tu Min sebagai mana galibnya dilakukan oleh masyarakat di Aceh pada setiap hari baik di bulan yang baik selama ini," pungkas H. Jamaluddin T. Muku. 

Oleh karena itu dapatlah kita maklumi mengapa begitu mendengar Abu Tu Min Blang Bladeh sakit dan dirawat di salah satu rumah sakit di Kuala Lumpur, Teuku Taufiqulhadi segera terbang ke ibukota negara tetangga tersebut untuk membesuknya, karena Beliau merupakan salah seorang sosok Putera Aceh yang sangat ta'zim kepada Ulama. [ral]