Ribuan Massa Kepung Bawaslu, Tuntut Diskualifikasi Jokowi

Redaksi 10 Mei 2019 | 17:20 358
Ribuan Massa Kepung Bawaslu, Tuntut Diskualifikasi Jokowi

Koran Independen.co. Jakarta – Runtuhnya moral bangsa dan demokrasi Indonesia diwarnai kisruh politik Pemilu Curang,  serta tingginya potensi tingkat kematian para petugas KPPS.

Hal itu di katakan aktivis betawi Jalih Pitoeng di Bawaslu, Jum’at (10/5/2019). Jalih juga sempat dikabarkan sebagai seorang aktivis yang lantang bersuara dan dirinya siap ditembak ditempat oleh Kapolri jika rusuh dalam people power.

Jalih juga mengatakan ribuan massa kepung Bawaslu RI hari ini gabungan dari elemen massa GERAK dan Koalisi Umat. Mereka mengawal laporan kecurangan pemilu yang diserahkan tim Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga ke Bawaslu, dan sekaligus menyuarakan agar Bawaslu segera mendiskualifikasi Paslon Capres Nomor Urut 01 Jokowi-Ma’ruf Amin.

“Besarnya Negara ini atas jerih payah para pejuang terdahulu, para ulama dan rakyat bersatu untuk menumpas kedzhaliman. Disini kita juga sama melakukan apa yang di atur dalam konstitusi UUD’45 dan Pancasila, bahwa kemerdekaan adalah HAK segala Bangsa. “Kata Jalih di depan kantor Bawaslu, Jum’at (10/5/2019).

Selain itu, Jalih juga meminta agar Bawaslu segera men-sidangkan Ketua KPU karena dinilai telah melakukan kejahatan pidana pemilu yang terstruktur, dan Masif.

“Kalau bukan ulah ketua KPU, lantas ulah siapa? Penyelenggara pemilu kan urusan KPU, bukan urusan para Ojek Online. Yaaa ketua KPU lah harus bertanggungjawab atas insiden yang terjadi, semua merasakan pesta demokrasi kita sangat bobrok dan bisa disebut sebagai Bencana Nasional atas banyaknya petugas KPPS yang meninggal. Itu juga harus di usut…. Polisi mana polisi… Usut dong tuh KPU, bikin Tim Gabungan Pencari Fakta, bongkar kecurangan dan bongkar dugaan pembunuhan massal ratusan petugas KPPS. “Tegas Jalih.

Dalam kerumunan massa di depan gedung Bawaslu, nampak terlihat ratu dangdut Indonesia, Hj. Kamelia Malik dan sejumlah tokoh lainnya yang juga orasi di atas mobil komando, seperti Hj. Neno Wariskan, Eggi Sudjana dan lainnya.

Diinformasikan, setelah Massa membubarkan diri dari gedung Bawaslu, tiba-tiba ada sekelompok orang membawa nasbung (nasi bungkus) dan menolak adanya people power.(red)

Dikutip : Kabar Today.co.id