Mahasiswa Aceh Bantah Ingin Turunkan Bendera Merah Putih di Depan Gedung DPRA

Redaksi 16 Agustus 2019 | 14:59 598
Mahasiswa Aceh Bantah Ingin Turunkan Bendera Merah Putih di Depan Gedung DPRA

Koran Independen, Banda Aceh, - Pada hari memperingati 14 tahun Perdamaian Aceh 15 Agustus 2019, kemarin, sejumlah mahasiswa di Banda Aceh melakukan aksi di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Aceh, menuntut beberapa hal terkait qanun yang belum terealisasi selama 14 tahun paska penandatanganan MOU antara pemerintah republik indonesia (RI) dengan gerakan aceh merdeka (GAM), Kamis (15/08/18).

Mahasiswa Aceh dalam hal ini menuntut beberapa hal terkait qanun yang hingga saat ini masi banyak butir-butir MOU yang belum terealisakan paska 14 tahun perdamaian Aceh, setelah beberapa saat aksi dilakukan oleh mahasiswa dengan berorasi langsung dihadapan ketua komisi 1 DPRD Aceh Azhari S.IP atau yang kerap di sapa "cage" kemudian terjadinya chaos antara mahasiswa dengan pihak kepolisian, sehingga terjadinya tindakan represif pemukulan oleh pihak keamanan terhadap mahasiswa.

Pemukulan yang dianggap tidak wajar yang dilakukan oleh kepolisian terhadap beberapa mahasiswa sehingga mahasiswa lembam, memar di wajah dan leher akibat tindakan pemukulan oleh pihak kepolisian. Hal ini dapat kita lihat di video amatir yang berdar di medis sosial kemarin.

"Saya kemarin ditendang dari belakang tepatnya terkena pungung saya, dan tumbukan dileher dan wajah" ucap Sabar, salah seorang mahasiswa peserta aksi demo saat diwawancarai awak media. (16/8/2019)

Selain pemukulan mereka juga sempat ditahan di Polresta Banda Aceh beberapa jam dengan tuduhan mahasiswa ingin menurunkan bendera merah putih di depan Gedung DPRD Aceh, padahal keinginan penurunan tidak benar, sambung sebut Sabar.

Zubaili, salah satu korban pemukulan yang mengakibatkan leher, dan telinganya terluka mengaku sempat keluar darah saat pemukulan terjadi, dia membantah tuduhan yang disampaikan oleh Kapolres pada media baru-baru ini yang mengatakan penangkapan mahasiswa tersebut karena ingin menurunkan bendera merah putih di depan kantor DPRD Aceh.

'Kami membantah tuduhan Kapolres terhadap kami yang ingin menurunkan bendera merah putih, itu tidak benar, pihak mereka (kepolisian) yang sudah memperlakukan kami layaknya binatang, ditendang, digebuk, dihajar, malah berani Kapolres menuduh Kami ingin menurunkan bendera merah putih, sekali lagi kami mahasiswa membantah tidak melakukan upaya yang dituduh oleh Kapolres," ungkapnya.
 
Hal senada juga d sampaikan oleh Presma UIN AR-RANIRY, Riski Ardian, kami tidak sama sekali ingin menurunkan bendera merah putih, yang ada kami mendesak DPRD Aceh untuk menaikkan bendera bintang bulan beriringan dengan bendera merah putih, karena ada 2 tiang bendera di depan gedung tersebut.

"Alasan kami meminta DPR Aceh untuk menaikkan bendera karena sudah 14 tahun Perdamaian Aceh dan MoU itu, status bendera hingga saat ini belum jelas, Coba Kapolres Banda Aceh jangan menuduh dan membalikan fakta yang terjadi di lapangan," tutup Riski. (Red/Mus).