Kompas_Buss Nilai Wacana Pembangunan Pusat Kebudayaan di Subulusalam Tidak TepatĀ 

Redaksi 06 November 2019 | 17:02 88
Kompas_Buss Nilai Wacana Pembangunan Pusat Kebudayaan di Subulusalam Tidak TepatĀ 

Ist

Koran Independen, Subulussalam -  Komunitas Pecinta Sejarah Kebudayaan Suku Singkil (KompasBusS) mengecewakan sikap Eksekutif dan Legislatif kota Subulussalam terhadap rencana pembangunan Pusat Kebudayaan Pakpak yang di usulkan oleh Yayasan PakPak Suak Boang Indonesia (YPBSI) beberapa hari lalu. 

Hal itu disampaikan ketua Kompas_Buss Hasmaudin Lembong, Rabu (6/11) kepada media ini melalui pesan rilisnya. Ia menilai Walikota Subulussalam terlalu condong memihak kepada salah satu suku yang ada di Subulusalam, tanpa menimbang terlebih dahulu perasaan pendukuk asli yaitu Suku Singkil.

Hasmaudin menyampaikan selama pemerintahan Bintang Salmaza begitu banyak gejolak mengenai persoalan budaya, mulai dari isu makanan khas, pakaian adat, dan kini muncul wacana pembangunan Pusat Kebudayaan Pakpak.

"Hargai perasaan penduduk lokal, kita memang tahu legislatif kini di kuasi oleh partai penguasa, tentu mudah  untuk meloloskan semua programnya, tetapi jangan program yang dapat menimbulkan konflik, kita malahan lebih sepakat bila pemerintah lebih fokus pada sektor pendidikan, infrastruktur dan pemantapan ekonomi, mengingat hari ini Subulussalam masih minim SDM dan meningkatkanya kebutuhan ekonomi" ungkap Hasmaudin 

Meskipun Pak Bintang berasal dari suku Pakpak bukan berarti melupakan suku asli Subulussalam, sebab Subulussalam itu adalah mayoritas suku Singkil yang merupakan penduduk asli, bila gejolak dan isu Suku maupun Budaya ini tetap di paksakan, kita mengkhawatirkan akan terjadinya gesekan antar dua suku, tentu ini bukan yang kita harapkan. 

"Apakah momen ini adalah salah satu kontrak politik sebelum nya. Ada apa dengan sahabat sahabat semua suku. Apakah itu hanya selogan saja" tanya Hasmaudin.. 

Hal senada juga disampaikan Muzir Maha salah seorang aktivis mahasiswa Subulussalam di Banda Aceh. Muzir beranggapan pembangunan Pusat Kebudayaan Pakpak itu salah alamat, karena menurutnya suku Pakpak itu berasal dari Kabupaten Dairi/Pakpak Barat di Sumatera Utara, ia menyarankan jika pembangunan tersebut baiknya disana saja, karena menurutnya secara historic dan otentik Subulussalam tidak memenuhi standar dalam upaya pembangunan Pusat Kebudayaan Pakpak. 

"Kita bukan alergi dengan budaya luar maupun suku lain, tetapi ranah nya saja tidak tepat dan terkesan ingin melemahkan penduduk asli, di saat pemimpin nya dari salah satu suku, tentu sebagai putra daerah saya merasa sedih dan kecewa, bukan kecewa dengan pembangunanya, tetapi etika budaya dalam menghargai ke Arifan Lokal seperti nya sudah hilang," pungkasnya. 

Muzir menambahkan jika pemerintah memang sahabat semua suku, mestinya itu menjadi program dengan membuat produk Taman Budaya yang nantinya di isi oleh berbagai macam budaya yang ada di Subulusalam, dengan catatan tidak ada upaya menenggelamkan atau meminggirkan adat budaya tempatan yaitu Singkil. 

Muzir juga mencontohkan provinsi DKI Jakarta, meskipun warga Betawi sudah terpinggirkan tetapi pemerintahannya berupaya untuk trus melestarikan Adat Budaya asli daerah tersebut, bahkan di Jawa Barat semua kabupaten kotanya di jadikan pusat kebudayaan, tetapi bukan pusat kebudayaan luar, demi melestarikan adat budaya daerah lokal, karena budaya itu adalah aset dan kekayaan lokal yang mestinya harus di jaga dan dilestarikan. (Red/Muzir)