Cerita Dibalik Nama-nama Daerah di Pidie Jaya

Redaksi 24 Januari 2021 | 15:46 56
Cerita Dibalik Nama-nama Daerah di Pidie Jaya

Penampakan buku “Pidie Jaya Dalam Lintasan Sejarah” karya Iskandar Norman

Pidie Jaya, Pemberian nama-nama daerah di Aceh khususnya di daerah Pidie Jaya mempunyai latarbelakang dan cerita tersendiri.

Menurut yang saya (penulis,red) baca dari buku “Pidie Jaya Dalam Lintasan Sejarah” karya Iskandar Norman, disebutkan dahulu Sebelum Sulthan Iskandar Muda dengan pasukannya berlayar ke semenanjung Melayu untuk menyerang  Raja Siujud (sekitar tahun 1607 -1636), ia mendatangi beberapa negeri dalam wilayah Kerajaan Aceh untuk menghimpun bala tentara.

Sepanjang perjalanan dari pusat kerajaan di Bandar Darussalam sampai ke Negeri Pidie dan Meureudu, parade tentara kerajaan bersama Sulthan singgah untuk rehat dan menghimpun kekuatan di beberapa tempat (H M Zainuddin dalam buku “Singa Atjeh” terbitan Pustaka Iskandar Muda, Medan, 1957).

Panteraja

Tempat-tempat yang disinggahi itu di antaranya Paru yang saat itu sebagai pusat perkebunan lada, dari sana Sulthan menuju Kuala Keurandji yang sungainya berair jernih. Rombongan Sulthan istirahat di pinggir kuala tersebut. Pantai itu kemudian dinamai Panteraja, yang bermakna pantai tempat raja singgah.

Di Panteraja Sulthan Iskandar Muda melatih lagi tentara baru di sebuah tanah lapang  yang dinamai Blang Peurade. Daerah itu sampai kini dikenal dengan nama Peurade yakni daerah bekas dilakukan parade pasukan oleh Sulthan Iskandar Muda yang diambil dari berbagai daerah yang dilaluinya.

Setelah parade pasukan, Sulthan Iskandar Muda terus bergerak bersama ribuan prajurit ke arah timur. Daerah yang dilalui pertama oleh parade pasukan itu dinamakan Juroeng Beurangkat, yang artinya lorong (jalan) berangkatnya Sulthan.

Sampai di suatu daerah, rombongan Sulthan diminta untuk singgah dan istirahat oleh penduduk yang menantinya. Di tempat itu Sulthan dipersilahkan duduk (Puduek) dan dijamu dengan tebu dan kelapa muda. Daerah itu kemudian dinamai Puduek yang artinya dipersilahkan duduk.

Dari Puduek Sulthan Iskandar Muda bersama bala tentaranya terus bergerak ke arah Timur hingga sampai ke sebuah daerah yang dipinggir jalannya terdapat pohon besar. Di bawah pohon besar itu Sulthan melihat sebuah umpang (karung). Tetapi pemilik karung itu tidak berada di situ. Sulthan memerintahkan bawahannya untuk mencari pemilik karung tersebut.

Kepada orang-orang di sekitar itu ditanyakan siapa pemilik karung itu. Seorang warga memberitahukan bahwas karung itu milik seorang pria tua. Orang Aceh menyebutnya eumpang wa, yang berjalan lebih dahulu dari bawah pohon tersebut. Daerah itu kemudian dinamai Eumpang Wa, lama-lama berubah pengucapannya, hingga kini dikenal sebagai daerah Pangwa.

Seorang prajurit kemudian menjinjing karung itu untuk menyusul pemiliknya, namun setelah sekitar satu jam perjalanan, tak ditemukan, hingga Sulthan dan rombongan kemudian kembali istirahat di pinggir sungai kecil.

Karena tak berhasil mencari pemilik karung tersebut, Sulthan memerintahkan prajurit itu untuk membukanya. Saat dibuka ternyata isinya beulacan (belacan). Sungai dan daerah itu pun dinamai Beulacan, yang kini dikenal sebagai kemukiman Beuracan.

Tgk Ja Pakeh

Dari Beuracan rombongan Sulthan Iskandar Muda terus berjalan untuk menjumpai Tgk Jalaluddin Pakeh yang akan diangkatnya menjadi panglima perang. Sampai di suatu tempat, gajah yang ditunggangi Sulthan berhenti di sebuah bukit. Gajah yang dipanggil Meurah itu duduk di bukit itu di bawah pohon rindang.

Gajah duduk dalam bahasa Aceh disebut Meurah Du, maka daerah itu pun dinamai Meurah Du, yang lama kelamaan pengucapannya berubah menjadi Meureudu, kota yang kini menjadi ibu kota Kabupaten Pidie Jaya.

Karena sudah sore, Sulthan menginap di negeri Mereudu untuk menjemput Tgk Japakeh dan Malem Dagang. Sulthan dan rombongan menginap agak ke timur dari daerah gajah duduk. Daerah itu dinamai dom sinaroe, yang bermakna bermalam bersama. Kini dikenal sebagai daerah Naroe.

Setelah menginap beberapa hari di Negeri Meureudu dan mengumpulkan lagi pasukan di sana, rombongan Sulthan Iskandar Muda bergerak lagi menuju ke arah timur. Pada tengah hari rombongan itu tiba disebuah kelokan sungai yang berair dingin dan jernih. Air sungai yang deras mengalir di celah batu-batu besar yang disebut Batee Ile, batu dengan air mengalir. Daerah inilah dinamai Batee Ile yang sekarang dikenal sebagai tempat wisata Batee Iliek.

Bate Iliek

Setelah mandi dan sembahyang di Batee Iliek, rombongan Sulthan menuju ke sebuah perkampungan dekat sungai itu. Daerah itu terdapat sebuah tumpukan rumah yang jumlah rumahnya ada enam puluh.

Sulthan menamai daerah itu Tumpong Namploh, yakni desa dengan enampuluh rumah. Di kampung itu romongan Sulthan juga bermalam. Kampung itu ramai letaknya di aliran Krueng Batee Iliek yang jernih. Di Tumpok Namploh Sulthan juga merekrut para pemuda untuk memperkuat barisan tentaranya.

Pada pagi harinya, prajurit dan para perwira mandi di sungai. Saat berenang datanglah seekor elang yang menyambar tali pinggang putih di atas pantai, milik salah seorang perwira. Tali pinggang itu mungkin dikira ular oleh elang sehingga disambar. Elang itu terbang dan kemudian berhenti di atas bak nga (pohon kenanga).

Perwira yang sedang berenang itu terkejut, lalu mereka beramai-ramai mengejar elang itu. Karena takut elang itu terbang lagi dan menyambar pohon kenanga. Maka elang itu disebut kleung sama bak nga, artinya elang yang menyambar pohon kenanga. Hal itu pula yang menurut H M Zainuddin sebagai asal usul dari nama Samalanga.

Dari Samalanga rombongan Sulthan kemudian berangkat lagi menuju pesisir timur, tidak berapa jauh dari Samalanga di tengah jalan rombongan itu dilintasi oleh sekawan kera (bue). Mereka menyebutnya ditham le bue, yakni dilintasi oleh kera. Karena itulah daerah padang yang dilalui itu dinamai Tham Bue, yang kini dikenal sebagai daerah Tambue.

Romongan Sulthan kemudian berjalan sampai menjumpai sebuah kuala. Karena sudah sore mereka bermalam di situ. Warga sekitar kemudian mengantarkan hidangan ala kadar untuk rombongan Sulthan dan tentaranya. Di antara hidangan dan sarapan itu terdapat isi satu piring sambal yang diantar oleh seorang wanita.

Sambal itu terbuat dari ikan dan direbus seperti petis udang. Orang Aceh menamai sambal itu “peuda” dan karena rasanya sangat pedas maka mereka itu menyebut terlalu pedas dengan kata peuda da yang kemudian menjadi nama daerah tersebut Peudada.

Esoknya Sulthan melanjutkan perjalanan hingga sampai ke suatu kuala besar yang dijaga oleh kapal perang raja di dekat daerah Jangka. Daerah itu pun dinamakan Kuala Raja, kuala yang dijaga oleh kapal perangnya raja.

Di situ Seri Sulthan memanggil pula para uleebalang untuk meminta orang ikut pergi menyerang Malaka. Tapi banyak yang takut dan tak ingin ikut dalam rombongan tersebut mereka takut akan terlibat dalam perang besar. Mereka melarikan diri ke dalam rimba.

Gayo

Orang-orang yang ketakutan itu dipanggil ka yo (sudah takut). Pengucapannya lama kelamaan berubah menjadi ga yo. Kelompok orang-orang yang lari dari ajakan perang inilah yang disebut H M Zainuddin sebagai orang-orang Gayo sekarang.

Uleebalang daerah itu merasa malu karena para pemudanya tidak berani ikut berperang. Karena itu, uleebalang minta maaf dan mempersilahkan Sulthan dan rombongannya melanjutkan perjalanan ke timur. Namun uleebalang itu berjanji akan menyuruh orang-orang yang lari ke rimba itu untuk menangkap gajah dan akan dipersembahkan kepada Sulthan nanti setelah pulang dari perang.

Ketika rombongan dipersilahkan untuk melanjutkan perjalanan itulah, timbul olok-olok dari kalangan tentara kerajaan yang ramai-ramai berteriak peusak ngon, yang artinya mendesak kawan. Hal itu diucapkan karena uleebalang itu mendesak para tentara untuk melanjutkan perjalanannya, sementara uleebalang itu sendiri tidak memberikan pemudanya untuk menjadi tentara yang akan berperang ke Malaka. Dari kata peusak ngon itulah asal usul nama daerah Peusangan.

Dari Peusangan, bala tentara dan Sulthan terus melanjutkan perjalanan sampai ke suatu negeri yang bernama Kandang. Mereka berhenti di situ. Sulthan kembali kembali meminta para pemuda di sana untuk bergabung dalam angkatan perang untuk diberangkatkan menuju Malaka.

Tapi warga di sana meminta keberangkatan ditunda dulu, mereka belum siap berangkat karena tanaman padinya belum dipanen. Karena itulah daerah itu dinamai tunda yang bermakna menunda keberangkatan, sebuah daerah yang kini kita kenal dengan nama Cunda.

Lhokseumawe

Setelah orang-orang di Cunda siap untuk berangkat, rombongan menuju sebuah teluk yang indah, tapi sepi karena ditinggal pergi penduduknya. Di daerah itu hanya tinggal seorang nelayan tua yang sedang memancing. Rombongan Sulthan bertanya pada nelayan itu kemana para penduduk. Ia menjawab bahwa para penduduk sudah pergi, “seuma-seuma ka iweh, (kuman-kuman sudah pergi)”, jawab nelayan itu. Daerah itupun dinamai Seuma Weh, daerah yang kini dikenal sebagai Lhok Seumawe.

Dalam Hikayat Malem Dagang, kematian Raja Siujud diceritakan terjadi karena dimasukkan timah mendidih ke dalam mulutnya. Sementara dalam versi hikayat Sulthan Aceh Iskandar Muda disebutkan raja dari Johor itu mati dengan pukulan kayu. [Muhammad Ikhsan]