Duta Literasi Aceh Sebut Polemik Jilbab di SMKN 2 Padang Harus Diselesaikan

Redaksi 26 Januari 2021 | 09:32 49
Duta Literasi Aceh Sebut Polemik Jilbab di SMKN 2 Padang Harus Diselesaikan

M. Rafli Althoriq Mustafa,Duta Literasi Aceh

Aceh Tamiang – Aturan mengenai siswi non-muslim untuk memakai jilbab ke sekolah telah menuai pro-kontra di kalangan masyarakat, terutama sejak viralnya video seorang wali murid SMK Negeri 2 Padang  yang dipanggil pihak sekolah lantaran sang anak tak memakai jilbab.

Banyak netizen serta masyarakat yang membully habis – habisan para tenaga pengajar khususnya di SMK Negeri 2 Padang.

Duta Literasi SMK Aceh, M. Rafli Althoriq Mustafa, Senin (25/1/2021) mengatakan, polemik yang terjadi di SMKN 2 Padang harus diselesaikan dengan besar hati dibumbui rasa persaudaraan.

Memaksa siswa non muslim untuk memakai jilbab tidak bisa diterima. Menyelesaikan masalah dengan memviralkan video juga bukan cara yang benar.

“Sebetulnya tidak ada masalah yang tidak akan bisa selesai jika diupayakan dengan niat baik. Jangan sampai menyelesaikan masalah dilakukan dengan membuat masalah baru,” kata Rafli.

Menurutnya, seharusnya kita lebih fokus terhadap hal yang lebih substansial lagi yaitu tujuan pendidikan nasional. Pekerjaan utama kita saat ini adalah bagaimana membentuk karakter siswa agar menjadi siswa – siswi yang unggul, bertakwa, berkarakter serta mampu berkompetisi secara global. 

Sebagai seorang siswa yang masih duduk dibangku kelas XI SMK, Rafli Althoriq mengatakan bahwa tingkat Pendidikan di Indonesia masih jauh tertinggal dari negara – negara lain. Ia menekankan seharusnya pemerintah lebih fokus dalam membangun kualitas pendidikan khususnya di daerah – daerah tertinggal. 

“Saya berharap agar polemik mengenai aturan berbusana muslim bagi siswa dihentikan. Sebagai seorang siswa, saya berpandangan bahwa selama aturan itu tidak bertentangan dengan nilai – nilai moral dan etika, maka aturan tersebut sah – sah saja. Siswa non-muslim juga berhak memilih keduanya asalkan tidak ada unsur pemaksaan”. Ujar Duta Literasi Aceh itu.

Terkait aturan mengenakan pakaian muslim bagi siswa, Rafli Althoriq mengatakan bahwa cara berpakaian adalah salah satu ciri karakter dan jati diri seseorang. Persoalan bagaimana model berpakaian itu sendiri tergantung budaya lokal masing – masing daerah.

Faktanya, banyak siswa non-muslim yang berpakaian muslim seperti mengenakan jilbab tidak merasa keberatan atau terpaksa menjalankan aturan itu. 

Rafli Althoriq juga menambahkan bahwa seharusnya para guru itu dilindungi hak – haknya dalam menegakkan peraturan selama tidak bertentangan dengan hukum. Karena salah satu tugas besar guru adalah menumbuhkan karakter bagi anak didiknya. (MRAM)