Di Balik hastag “Indoesia Terserah”

Redaksi 20 Mei 2020 | 13:53 87
Di Balik hastag “Indoesia Terserah”

Thesa Carmila,

Oleh Thesa Carmila,

Jurusan Aqidah Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry

Dunia saat ini digemparkan dengan hadirnbya virus corona atau covid-19. Virus yang muncul sejak Desember 2019  ini bermula di Kota Wuhan, Cina. Virus ini sudah mewabah ke belahan dunia termasuk Indonesia.Menurut situs WHO virus corona merupakan virus yang dapat menyebabkan penyakit pernapasan pada manusia. dan gejalanya dari virus corona ini sangat  mirip dengan flu.

Virus corona pada manusia biasanya menyebar dari orang yang terinfeksi ke orang lain melalui udara (melalui batuk dan bersin), kontak personal, seperti bersentuhan atau berjabat tangan, dan menyentuh permukaan benda dengan virus diatasnya, kemudian menyentuh mulut, hidung atau mata sebelum mencuci tangan. Covid-19 ini sangat berbahaya dan bahkan mematikan Sampai sekarang belum ditemukan vaksin  virus corona.

Untuk menjegah penularan covid-19, terutama kita harus menjaga kebersihan, meningkatkan imun, dan menjaga jarak fisik  (physical distancing) dan tetap dirumah aja. Jika tidak berkepeluan jangan keluar rumah. Dengan adanya virus covid-19 di Indonesia memberikan dampak secara tidak langsung untuk negara Indonesia yang paling terasa adalah dampak dari perekonomian, pendidikan bahkan kesehatan.

Salah satu upaya pemerintah dalam memutus mata rantai covid-19 adalah dengan menerapakan PSBB (pembatasa Sosial Berskala Besar). Berdasarkan Permenkes Nomor 9 tahun 2020, pelaksaan PSBB meliputi peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum, pembatasan kegiatan sosial budaya, pembatasan moda transportasi, dan pembatasan kegiatan lainnya khusus terkait aspek pertahanan dan keamanan. kebejikan pemerintah harus dipatuhi, lalu bagaimana jika kebijakan itu berubah-ubah dan tidak pasti ?

Seperti pemerintah Indonesia melarang mudik, tetapi pemerintah membolehkan transportasi umum kembali beroperasi. Bukankah ini suatu peluang untuk bisa mudik? Seperti contoh di Bandara tampak penuh dan sesak di tengah penerapan PSBB.

Penutupan gerai makanan McDonald’s Sarinah, pihak manajemen mengadakan sebuah seremoni penutupan restoran yang hampir 30 tahun beroperasi, dengan diadakan acara tersebut warga berbondong bondong menyaksikan seremoni itu berasa nonton konser, karena banyaknya warga yang berdatangan tak terelakkan hingga akhirnya terciptalah keramaian di tengah pembatasan sosial berskala besar (PSBB). kemudian mall dan pasar-pasar sudah ramai orang kerumunan untuk belanja. setiap kebijakan yang diambil dalam mengatasi corona ini, mana yang lebih diperioritaskan ekonomi atau kesehatan masyarakat ?

Di saat pandemi covid-19 ini yang menjadi garda terdepan adalah tenaga medis. Dimana mereka bekerja dengan mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan nyawa yang lain. Tetapi kebijakan pemerintah yang dianggap melonggarkan pergerakan masyarakat menjelang lebaran. Tak hanya mengkritik pemerintah, tetapi juga perilaku sebagian masyarakat yang tak disiplin dengan protokol kesehatan untuk menjegah penyebaran virus corona.

Beberapa hari terakhir, kerap kali muncul tagar”Indonesia Terserah” yang dilakukan oleh para tenaga kesehatan Indonesia. Mereka menyuarakan tagar tersebut dengan sebuah kertas bertuliskan #Indonesiaterserah di media sosial. Tenega kesehatan kecewa oleh beberapa kebijakan pemerintah dan prilaku masyarakat yang kontradiksi dalam menekan penyebaran covid-19.

Bagaimana tidak, disaat dokter, perawat, dan sejawat tenaga kesehatan berperang sebagai benteng terakhir, tidak sedikit warga yang masih acuh, mulai dari melonggarkan PSBB di beberapa daerah, membuka kembali akses bandara, serta beberapa prilaku masyarakat yang tidak meindahkan peraturan seperti perkumpulan orang-orang tanpa jaga jarak, dan beberapa orang tidak memakai masker di McD Sarinah, dan konser yang diselenggarakan BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila),

Bukankah biaya konser itu mahal? Kenapa tidak dibelikan sembako, masker dan APD (alat pelindung diri) untuk tenaga medis, bukankah itu sangat bermanfaat? Dari awal konsisten untuk menyatakan memutus mata rantai dengan stay at home, jaga jarak, pakai masker, cuci tangan, dan jaga kesehatan, tetapi ternyata dilanggar semua, jadi bagaimana kita berharap virus ini akan cepat diatasai? siapakah yang  akan disalahkan?

Hal ini pula yang mendorong menjamurnya hastag #Indonesiaterserah.#Indonesiaterserah adalah ungkapan isi hati para tenaga medis yang sudah susah payah berjuang di garis terdepan.

Meninggalkan keluarga dan bertaruh nyawa. Saatnya kita merangkul untuk peduli terhadap sesama. Saatnya kita peduli sesama petugas medis dengan dirumah aja (stay at home). Jika kalian mulai bosan dirumah mari kita ganti slogan “people stay outside” dan “doctors stay at home. Nah!