Titian Bisa Lapuk, Janji Bisa Mungkir

Redaksi 29 Juni 2020 | 13:20 66
Titian Bisa Lapuk, Janji Bisa Mungkir

Fajri Profesi : Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam(S1) di UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Oleh Fajri
Profesi : Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam(S1) di UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Bukan rahasia lagi bahwa ada banyak orang yang berjuang selama Pandemi COVID-19. Berjuang mempercayai dan mematuhi segala peraturan yang di buat oleh pemerintah. Lain hal nya yang sedang maraknya tentang Polemik RUU HIP. Ada banyak tanduk yang berdiri di negara ini karena berhadapan dengan tanduk kekuasaan.

Padahal negara demokrasi yang dasarnya adalah mengelola perbedaan tapi mau dibuatkan ideologi negara yang dasarnya adalah memaksakan persatuan/plural, itu penyebab kekacauannya.

Pancasila sebagai falsafah dan ideologi negara adalah hasil kesepakatan bangsa Indonesia yang bersifat final dan mengikat seluruh elemen bangsa. Rumusannya pun tercantum di dalam pembukaan UUD 1945 yang merupakan norma hukum tertinggi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Sekarang indonesia tidak butuh RUU HIP, karena pancasila sudah final. Dan seluruh masyarakat Indonesia sudah berjanji dan mengakui bahwa pancasila sebagai fundamental negara Indonesia, tidak boleh diganggu gugat. Pada zaman ini, kok ada suatu kelompok yang mengingkarinya, sok merasa lebih hebat mengganti Pancasila.  

Hal ini juga menjadi sebuah penghianatan bagi perjuangan dulu. Dalam pidatonya Soekarno menjadi bukti yang telah ditetapkan bahwa proklamasi, pembukaan uud 1945 dan pancasila adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan sebagai identitas dan bentuk negara indonesia. 


إِذَاوُسِدَالْأَمْرُإِلَى غَيْرِأَهْلِهِ فَانْتَظِرِالسَّاعَةَ
“Apabila suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya.”(HR. Bukhari)

Sebelumnya, pemerintah sudah meminta penundaan pembahasan RUU HIP. Pemerintah menjelaskan saat ini fokus yang harus diselesaikan adalah penanganan virus Corona.

Pada akhir pembahasan para wakil DPR menyatakan akan berjanji akan menghentikan pembahasan itu walaupun dengan mekanisme yang ada karena sekarang ada di pemerintah, tapi tidak ada saling lempar antara pemerintah dan DPR dalam penghentian RUU kontroversial ini.

Makanya aliansi akan terus mengawal hingga RUU ini benar-benar disetop bukan hanya sekadar menunda, janjinya harus dibuktikan, bukan sekedar Retorika politik untuk menjaga komitmen dalam membangun citranya. Apa yang sudah kita ucapkan dan apa yang sudah kita lakukan itu harus jadi komitmen kita.

Zaman sekarang ini, janji itu buat kalimat penenang, rencana itu hanya ekspektasi, selebihnya bulshit. 

Hidup adalah belajar, belajar mendengarkan orang yang pantas didengarkan dan mengabaikan orang yang pantas di abaikan.

Titian bisa lapuk, janji bisa mungkir maksudnya adalah Janji tidak selamanya ditepati oleh orang yang membuat janji. Ucapan/kata-kata itu ibarat angin, begitu di ungkapkan maka akan berhembus ke mana-mana. 

Ingkar janji itu adalah orang yang sadar akan janjinya, mampu untuk melakukannya tapi  dia tidak mau memenuhinya padahal tidak ada uzur baginya, sejenis orang munafik (Lima taquuluuna ma laa taf ‘alun,kenapa kamu katakan apa yang tidak kamu kerjakan), sedangkan orang yang lupa akan janjinya, maka itu tidak bisa dikatakan dengan ingkar janji.

Lebih hebat sumpah atau janji ?

Misalkan, seseorang berkata “Saya bersumpah menjadi pegawai negeri sipil,bersedia ditempatkan di seluruh indonesia, saya bersumpah,” begitu keluar SK dan mau ditempatkan di papua, langsung minta pindah, padahal sudah bersumpah, 

Allah menghitung sumpah hanya di dalam hati saja, sedangkan dalam mulut hanya basa-basi, syarat untuk menebus sumpah yaitu kasih makan 10 kepada orang miskin, kasih pakaian 10 kepada orang miskin, bebaskan budak hamba sahaya, jika tak sanggup ketiga-tiganya, maka ada keringanan nya yaitu puasa 3 hari, sumpah bisa ditebus dengan puasa 3 hari,

Sedangkan janji, kalau ada orang yang membuat janji lalu mengingkari janjinya, menjadi jelas bahwa itu bukan sekedar kafir tapi lebih dari pada kafir itu yaitu munafik, azab kalau orang kafir di neraka, tapi kalau orang munafik diazabnya dalam keraknya neraka. Semoga kita dijauhkan dari sifat munafik.

“...Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta”. (Q.S. Al-Mukmin:28). !!!