STOP Bullying Pada Anak!

Redaksi 29 Juni 2020 | 14:08 33
STOP Bullying Pada Anak!

Oleh Nurma Yunita Mahasiswa Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Uin Ar-Raniry

Oleh Nurma Yunita 
Mahasiswa Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) 
Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Uin Ar-Raniry


Siapakah yang Berperan Penting Dalam Kasus Bullying ?

Dengan berkembangan era teknologi tidak membuat kasus Bullying meredah bahkan bertambah semakin marak. Pelaku bullying kini tidak hanya melakukan bully secara langsung kini para pelakupun banyak yang memanfaatkan media sosial untuk membully seseorang.

Dengan menggunakan media sosial para pelaku bully bertambah lebih mudah untuk melakukannya, para pelaku biasanya membully dengan menggunakan foto aib korban yang tidak pantas untuk di posting di media sosial, menyebarkan status yang menjatuhkan seseorang, atau menyebar video seseorang yang bertema negatif.

Tindakan bully tidak hanya mengarah atau terjadi pada tindakan kekerasan secara fisik terhadap seorang korban misalnya seperti menampar, menendang, memukul, meninju dan lainnya,

Namun bully juga bisa dalam bentuk nonkekerasan atau secara lisan seperti mengejek, menyebarkan gosip yang bukan bukan, memanggil dengan sebutan panggilan nama yang hina seperti binatang atau memanggil dirinya dengan nama orang tua atau bahkan ada yang mengucilkan.

Coba lihat di sekeliling lingkungan kita sendiri terutama pada anak-anak, mereka sering melakukan tindak bullying bukan hanya sekedar bully ringan tetapi juga ada yang membully menggunakan fisik kepada sesama temannya.

Biasanya mereka akan mengejek, menertawakan, memanggil dengan panggilan yang tidak layak, memukul, bahkan berkelahi. Semua perilaku mereka harusnya tidak luput dari pengawasan orang tua.

Tak hanya pada anak, sama halnya pada para remaja walaupun mereka sudah dapat berfikir dengan baik, namun tak hayal mereka masih melakukan tindak bullying yang dengan alasan hanya bahan candaan untuk bersenang-senang.

Namun mereka tidak menyadari bahkan tidak memperdulikan si korban dengan perilaku mereka dapat mebuat mental seseorang dapat terganggung.

Para pelaku bully biasanya memiliki fiksik yang kuat, dan mereka akan menacari korban bully yang memiliki fisik atau kemampuan yang kurang dari mereka, dengan begitu para korban bully biasanya mereka tidak berani melawan.

Dengan berdiam diri dan menahan semua perilaku bully yang seseorang dapatkan ternyata itu bisa mengganggu mental dan kejiwaan seseorang karna tertekannya psikologisnya.

Tak hayal banyak korban bully bisa berubah perilakunya menjadi pendiam, tidak suka bergaul atau menjadi orang introvert, ironisnya bahkan ada juga korban bully yang sampai dapat mengakhiri hidupnya.

Dalam kasus bullying ini kita tidak bisa anggap sepele, bahkan pelindungan kasus bully masih banyak yang tidak di tindaklanjuti, banyak kita lihat setelah pelaku tercyduk mereka hanya meminta permohonan maaf saja kemudian kasus tersebut dianggap selesai, namun hal tersebut tidak seimbang dengan keadaan psikis korban yang terganggu.

Sayangnya masyarakat kita tidak mempermasalahkan hal tersebut. Yah, walaupun pelaku kebanyakan masih berada di bawah umur namun seharusnya sanksi tetaplah sanksi yang harus terus berjalan.

Bukankah Negara kita telah mengatur di dalam Undang-undang tentang tindakan bullying di lingkungan pendidikan pada pasal 54 UU 35/2014 yang berbunyi sebagai berikut :

(1) Bahwa anak di dalam dan di lingkungan satuan pendidik wajib mendapat perlindungan dari tindak kekerasan fisik, psikis, kejahatan seksual dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh pendidik, tenaga pendidik, sesama peserta didik, dan/pihak lain,
(2) Perlindungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, aparat pemerintah dan/masyarakat.

Dalam kasus bullying menurut penulis yang harus berperan penting dalam tindakan bully adalah para orang tua dan juga guru ketika berada di sekolah.

Orang tua seharusnya selalu mengawasi anak-anak mereka ketika bermain di lingkungan ataupun dalam media sosial, para orang tua harus membangun komunikasi yang baik kepada para anak agar anak dapat lebih terbuka sehingga segala sesuatunya dapat ia ceritakan kepada orang tua,

Beri waktu luang yang banyak kepada anak agar dapat lebih dekat dan akrab, tegur anak jika salah namun harus dengan cara yang baik pula, terutama harus tanamkan nilai keagamaan pada anak agar mereka tahu mana yang salah dan mana yang benar.

Kemudian dalam lingkungan sekolah maka gurulah yang sangat berperan penting, para guru seharusnya lebih memahami karakter siswanya,

Cobalah sosialisasikan bagaimana dampak buruk dari tindakan kasus bullying itu pada siswa, guru juga bisa menjadi teman atau sahabat kepada siswa agar jika terjadi suatu masalah yang dialami oleh seorang murid kepada temannya maka guru dapat berbicara dengan baik-baik sehingga menciptakan suasana nyaman dan tenang sampai masalah terselesaikan. Nah !