Istidraj Berbalut Nikmat

Redaksi 23 Juli 2020 | 20:43 30
Istidraj Berbalut Nikmat

Rahmayani Mahasiswi UIN Ar-Raniry

Oleh Rahmayani
Mahasiswi UIN Ar-Raniry

Dalam kehidupan kita pernah mengalami fase sulit dan kenikmatan. Terkadang sulit yang berkepanjangan, baik itu perihal ekonomi, psikis maupun kesehatan. Namun apa pun permasalahan yang tengah kita hadapi tentu harus diterima dengan lapang dada.

Siapa yang tidak menginginkan tubuh dan jiwanya yang sehat? Sakit merupakan bentuk nikmat dari Allah SWT, justru orang-orang yang jarang terkena penyakit bisa jadi termasuk golongan yang tertimpa istidraj dari Allah. Sakit adalah bentuk rasa sayang Allah SWT kepada hambanya agar mengingatnya serta selalu dalam syukur.

Orang yang sakit akan diuji kesabaran dan keimanannya. Kepada siapa mereka akan meminta kesembuhan, apakah Allah SWT atau sosok lainnya. Nah, salah satu tanda istidraj adalah jarang tertimpa penyakit. Merasa tubuh dan jiwanya selalu sehat, orang-orang biasanya akan lalai dan terlena pada urusan duniawi.

Ditinjau dari segi bahasa, istidraj diambil dari kata ‘daraja’ yang berarti naik dari satu tingkatan ke tingkatan yang berikutnya. Namun, secara istilah, istidraj memiliki makna azab berwujud kenikmatan. Seseorang yang dilimpahkan harta yang cukup banyak dan melimpah ruah tanpa henti, tetapi dalam perihal ibadah kepada tuhan dia kurang. Ini patut ditakuti dikarenakan kenikmatan yang dirasakan berbalut dengan istidrajnya Allah.

Terlalu sibuk dengan harta dunia yang tanpa henti terus mengalir, Allah membiarkan tanpa memberi azab. Dengan keadaan seperti itu lupa kepada sang pemilik alam, terbuai dengan kenikmatan yang diberikan. Padahal itu merupakan ciri azab yang tanpa di sangka-sangka. Ia terjebak dalam kenikmatan hidup, padahal dia semakin lalai menunaikan ibadah serta kewajiban lainnya.

Allah berfirman dalam Al-qur’an “Maka ketika mereka melupakan peringatan yang tekah diberikan kepada mereka, kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) bagi mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa”. Tentu hal ini merupakan peringatan yang harus diserapi dengan kesadaran diri.

Berkecukupan dari segi materi, serta menjalani hidup yang layak. Sesungguhnya kelancaran rezeki yang diterima adalah ujian dari Allah SWT, apakah dia akan terus terjebak atau mulai berfikir darimana datangnya semua nikmat dalam hidup. 

Sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadis yang diriwayatkan Uqbah bin ‘Aamir RA “Apabila engkau melihat Allah memberi seorang hamba dengan kelimpahan dunia atas maksia-maksiatnya, apa yang ia suka, maka ingatlah sesungguhnya hal itu adalah istidraj”.

Istidraj artinya mengulur-ngulur. Selain itu, hati-hati pula dengan imlaa’ yaitu penangguhan dari Allah bagi mereka yang lalai mengingat-Nya. Firman Allah dalam surah Al-Qalam ayat 44-45. Artinya, “maka serahkanlah (Ya muhammad) kepada-Ku (Urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al-Qur’an). Nanti kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan dai arah yang tidak mereka ketahui. Dan aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat tangguh.”

Disaat seorang tidak melaksanakan shalat, tidak puasa ramadhan, gemar bermaksiat, tetapi hidupnya makmur, sejahtera dan bergelimang kemewahan, ini adalah tanda-tanda istidraj. Ketika seorang meraih pangkat dan jabatan atau kemenangan dengan cara-cara yang zalim dan menghalalkan segala cara, ini juga contoh dari tanda istidraj.

zaman sekarang dunia sudah berbalut kenikmatan dengan istidraj. Dunia yang diliputi kecurangan, segala usaha dilakukan agar keinginan tercapai. Semua menginginkan uang walaupun dengan cara yang tidak baik dan menyimpang.

Bukankah hal ini merupakan tanda-tanda semakin meruak keburukan berupa nikmat berbalut istidraj. Demikian pula, kalau ada negara yang kufur kepada Allah, menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, melegalkan beragam bentuk maksiat, memerangi orang-orang yang mencintai Allah dan Rasulnya, membatasi atau melarang berbagai aktivitas dakwah. Negara itu bisa saja secara zahir tampak maju di berbagai kehidupan. Namun, kemajuan itu tak lain istidraj. 

Begitu bahayanya istidraj, sampai-sampai umar bin khattab pernah berdoa, “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu mrnjadi mustadraj (orang yang ditarik dengan berangsur-angsur ke arah kebinasaan)”. Untuk itu kita perlu bersyukur, karena bersyukur tidak hanya dilakukan ketika harapan terkabul, tapi kita juga dituntut untuk tetap merasa bersyukur dalam keadaan apapun.

Yaitu dengan menggunakan semua nikmat yang kita terima sesuai keinginan Allah untuk beribadah dan meraih keridhaannya. Sementara tidak adanya syukur atas segala nikmat diberikan Allah, merupakan bentuk dari istidraj yang membuat seseorang semakin jauh dari Allah dan melahirkan kesombongan dengan nikmat-nikmat yang diterima.

Maka dari itu waspada lah terhadap istidraj karena ia adalah “kenikmatan” yang membinasakan. Na’udzubilahi min dzalik.