Awak Droe Atau Ureung Laen, Seutot Gop Atawa Meupaleng ?

Redaksi 06 Februari 2021 | 21:56 35
Awak Droe Atau Ureung Laen, Seutot Gop Atawa Meupaleng ?

Oleh Abdul Razak, ST  Pemerhati Sosial Budaya dan Masyarakat di Aceh Barat Daya

Oleh Abdul Razak, ST 
Pemerhati Sosial Budaya dan Masyarakat di Aceh Barat Daya

Buya duk teudong-dong, buya tamong meuraseuki, pepatah Aceh kian lazim diucapkan oleh banyak kalangan di Provinsi berjulukan Serambi Mekkah, Aceh yang menelurkan banyak adat serta kaya akan budaya yang terus hidup berbarengan dengan masyarakatnya.

Aceh zaman dahulu memiliki kerajaan dengan kepemimpinan yang tangguh, setiap pengikut serta masyarakat kompak dalam setiap keputusan, rasa menghargai tinggi dan selalu santun menghadapi berbagai persoalan, hal itu tentu dibawah perintah seorang kepemimpinan.

Jiwa kesatria dengan balutan islam terus tumbuh ditengah masyarakat Aceh dahulu, kebersamaan terus dijunjung demi sebuah harga diri, tidak lari Jepang, tidak pula kalah tentara belanda, semuanya mampu dilakukan oleh kesatuan yang utuh.

Bicara siapa yang berani atau siapa pemberani, hanya pemimpin yang berhak atas sebuah keputusan kala itu, wajib di ikuti dan itu di anggap harga mati oleh setiap orang dimasanya.

Melirik dinamika Aceh hari ini, masih banyak kah persoalan yang belum terselesaikan?, kenapa hanya Aceh?rasanya setiap kalangan elit faham, mereka redam ditelan rasa diam mengikuti alur perkembangan politik Negeri.

Ureung Aceh (orang Aceh) sekarang bagaimana ?
Pertanyaan tersebut tentu akan terjawab oleh setiap orang yang mau berfikir lebih,

Mau berkaca dari sejarah Aceh masa lalu, kenapa masa lalu ?
Sejarah menulis Aceh tidak akan pernah menjadi provinsi tanpa masa lalu.

Saya, kamu, kita dan mereka yang ada di 23 Kabupaten kota adalah sama, kita ureung Aceh, kita orang yang lahir dari tumpah darah perjuangan orang tua kita,

mereka yang lahir dari kakek dan nenek kita, mereka sebelumnya juga terlahir dari darah perjuangan merebut kejayaan Aceh yang kita rasakan sekarang.

Seharusnya kita masih bersama-sama, tanoeh indatu (tanah peninggalan orang tua) kita belum sampai ketahap sejahtera yang sesungguhnya,

Mengapa harus berpaling dari rasa cinta yang dahulu pernah bersemi hingga kita terlahir ?
Kenapa harus berpaling dari rasa itu ?