Memperingati Isra’ Mi’raj 1442 H versi PW ‘Aisyiyah Aceh

Redaksi 15 Maret 2021 | 14:47 23
Memperingati Isra’ Mi’raj 1442 H versi PW ‘Aisyiyah Aceh

Memperingati Isra’ Mi’raj 1442 H versi PW ‘Aisyiyah Aceh

Oleh: Silfia Meri Wulandari, S. KM,. M. PH

(Wakil Sekretaris Majelis Tabligh PW ‘Aisyiyah Aceh)

Dalam pengajian rutin pekanan, Sabtu/13 Maret 2021, yang bertepatan dengan moment Isra’ Mi’raj tahun ini, PW ‘Aisyiyah Aceh mengusung tema ”Memahami Isra’ Mi’raj di Era Modern” yang dikupas oleh DR. Ali Abubakar, M. Ag.

Beliau adalah Wakil Ketua Tarjih dan Tajdid PW Muhammadiyah Aceh dan juga sebagai Dosen di UIN Ar-Raniry Aceh.

Dalam pemaparannya beliau menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW lahir pada musim kurma, sekitar bulan Maret dan April Masehi atau di Bulan Rajab. Dan Isra’ Mi’raj tersebut terjadi 1 tahun sebelum Nabi hijrah ke Madinah.

Dan pada saat itu dikenal dengan tahun kesedihan, karena pada masa yang berdekatan, Nabi mengalami musibah, yaitu kehilangan orang yang dikasihi dan dicintainya, yaitu, wafatnya paman beliau Abu Thalib yang selalu menjadi pelindung lalu disusul meniggalnya istri beliau, Sayyidina Khadijah ra.

Dan juga pada saat itu Nabi sedang meluaskan sayap dakwahnya dan mendapatkan pertentangan dan tidak diterima masyarakat, dilempari batu dan juga perlakuan buruk lainnnya, sehingga Nabi diboikot oleh Bani Hasyim.

Tidak boleh ada kegiatan atau transaksi muamalah apapun selama 3 tahun. Sehingga jama’ah dakwah Rasululullah mengalami kelaparan dan kepayahan.

Dan masa kejadian itu Nabi bersembunyi di dalam kebun kurma. Sehingga Nabi sempat berfikir bahwa Allah tidak berada dipihak Nabi karena memberikan cobaan yang amat sangat berat dan beruntun, jelas Ali Abbubakar.

Dilanjutkan lagi, sehingga beberapa waktu, Nabi melakukan Isra’ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (dengan jarak tempuh 1239KM) dan menurut sebagain tafsir, disaat itulah turunnya Alqur’an surat Ad-Duha, seperti dalam ayat ke 3 yang artinya “Rabbmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu”.

Dilanjutkan lagi DR. Ali Abubakar, setelah melakukan perjalananan tersebut, Nabi menceritakan kepada ummat/masyarakat sekitar bahwa telah melakukan perjalanan Isra’ menggunakan kendaraan buraq,

Masyarakat ketika itu tidak mempercayai itu dan mengklaim bahwa Nabi mengada-ada karena hal itu tidak mungkin terjadi sebab kendaraan yang ada pada saat itu hanyalah kuda.

Namun mereka percaya saja karena yang menyampaikannya adalah Nabi sebagai orang kepercayaan Allah SWT.

Setelah itu Nabi melakukan Mi’raj (perjalanan bertemu Allah SWT) di Sidratul Muntaha, dan mendapatkan perintah untuk umat Islam mendirikan sholat fardhu 50 waktu kemudian dikurangkan menjadi 5 waktu.

Pada saat itu, Nabi bertemu malaikat Jibril dan menampakkan wajahnya pada Rasul, dengan jarak adalah sekitar 2 busur panah. Dan juga dalam perjalanan tersebut, dilangit pertama sampai ke langit ketujuh,

Rasul bertemu dengan banyak Nabi (Nabi Adam, Isa & Yahya, Nabi Yusuf, Nabi Idris, Nabi Harun, Nabi Musa, dan Nabi Ibrahim), tutupnya. Nah!