Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Psikologis Masyarakat

Redaksi 01 Juni 2021 | 11:26 44
Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Psikologis Masyarakat

Foto : Istimewe

Oleh: Muhammad Alif Habibi
Mahasiswa Psikologi Universitas Syah Kuala

Saat ini, pandemi Covid-19 semakin hari semakin menimbulkan keresahan terhadap masyarakat dunia, tak terkecuali masyarakat Indonesia. Berbagai peraturan baru yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di Indonesia. Bahkan, semua kegiatan yang dilakukan diluar rumah harus diberhentikan. Dampak dari wabah Covid-19 juga menimbulkan pengaruh negatif terhadap psikologis masyarakat khusunya Indonesia.

Dan pandemi Covid-19 ini juga dapat menimbulkan kecemasan dan berbagai ganguan psikologis lainnnya. Sehingga, para ahli memperingatkan bahwa sebagian kecil orang bisa mengalami gangguan psikologis yang berkepanjangan akibat pandemi Covid-19 tersebut.

Dampak yang sangat sering terjadi pada masyarakat selama pandemi adalah mengalami kecemasan, ketakutan, dan bahkan sampai dilanda kesedihan akibat kehilangan anggota keluarga yang dinyatakan terpapar oleh Covid-19. Kecemasan merupakan kekhawatiran yang berkepanjangan dan rasa gugup. Namun, rasa cemas hanyalah indikator penyakit jika perasaan menjadi berlebihan. Untuk mengatasi kecemasan sendiri dapat dilakukan aktifitas fisik, diet sehat, tidur teratur, dan olahraga juga dapat membantu mengurangi rasa cemas.

Sangat banyak dampak yang dialami akibat pandemi Covid-19, mahasiswa merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang sangat rentan mengalami gangguan psikologis pada saat pandemi. Seperti saat pembelajaran virtual berlangsung, mengerjakan tugas perkulihan, dan lain-lain.  Akibatnya mahasiswa merasa cemas dan takut karena tidak dapat memahami materi dan tidak dapat menyelesaikan tugas.

Dan setiap pekerjaan harus dilakukan sendiri, berbeda dengan tahun-tahun sebelum adanya pandemi. Kegiatan seperti itu dapat dilakukan bersama dengan teman kuliah, sehingga dapat berbagi opini antara satu sama lain. Bahkan tidak sedikit mahasiswa yang putus kuliah pada masa pandemi akibat hal tersebut. Dilansir dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemendikbud) jumlah mahasiswa yang putus kuliah di masa pandemi meningkat mencapai 50%, khususnya pada mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta (PTS).

Oleh karena itu, untuk mengurangi gangguan psikologis yang dialami sebagian masyarakat Indonesia selama pandemi, marilah kita menjaga kesehatan mental dengan cara mengatasi kesendirian dirumah dengan banyak berkomunikasi baik sesama keluarga yang ada dirumah maupun teman-teman yang diluar meskipun melalui ruang virtual, menjaga kesehatan tubuh, tetap menerapkan protokol kesehatan, dan pastinya tetap memohon perlindungan kepada Allah karena segala yang terjadi hanyalah milik-Nya.