Menolak Lamaran Demi Kucing

Redaksi 03 Juni 2021 | 11:06 32
Menolak Lamaran Demi Kucing

Chairul Bariah. Foto : Istimewa

Chairul Bariah, Wakil Rektor II UNIKI,  Dosen FE UMUSLIM
dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen

Kucing adalah binatang kesayangan nabi. Kucing begitu banyak mencuri hati yang menyukainya, ada yang rela mengadopsi dengan mengeluarkan dana yang cukup besar. Penggemar kucing bukan saja anak-anak tetapi pemuda, pemudi dan orangtuapun menyukainya. Berbagai cerita yang menyentuh dari pencinta kucing membuat saya tertarik untuk menulisnya.

Ada seorang pemuda yang begitu menyukai kucing dan mengadopsinya. Selama dalam kasih sayang si pemuda sang kucing begitu manja. Setiap hari sang pemuda rela menggunakan uang jajan untuk membeli makanan  kucingnya  berupa daging, ayam dan ikan. Kucing yang diadopsi melaui internet di datangkan  dari Jakarta dengan biaya pengiriman lumayan besar ukuran anak muda.

Susahnya izin membawa pulang dari Jakarta dan banyaknya administrasi yang harus diselesaikan tidak mengurungkan niat sang pemuda untuk mengadopsi kucing  jenis Anggora yang sudah lama dia idamkan. Kucing yang menggemaskan ini berasal dari Turki Tengah, dari nama sebuah wilayah dengan sebutan Ankara atau lebih dikenal dengan Angora.
Berat kucing ini antara 2,2 Kg sampai dengan 4 Kg, berwarna putih, memiliki bulu yang tebal sehingga sangat menggemaskan.

Setelah satu minggu dalam perawatan sang pemuda, tagihan untuk membeli makannan jauh lebih besar bila dibandingkan dengan tagihan belanja ibunda. Kisah Pecinta kucing berikutnya, seorang perempuan yatim piatu bernama Maya (bukan nama sebenarnya) atas permintaan yang bersangkutan untuk tidak di publish, berprofesi sebagai pegawai negeri, orangnya pendiam, tinggal sendiri tanpa ada yang menemani. Dia memelihara  hampir 20 ekor kucing sebelum pandemi. Kucing yang dipelihara dari berbagai jenis tetapi yang dominan adalah kucing kampung.

Awalnya kucing yang dia miliki 5 ekor, kemudian  didapat di depan pintu rumah, ada yang tega membuangnya. Dengan menitikkan air mata akhirnya maya bersedia mengadopsinya. Selama dalam pemeliharaannya semua kucing sehat dan tidak ada yang cemburu karena mendapatkan perlakuan yang sama satu dengan lainnya, mereka semua dimanja.
Maya rela menggunakan  gajinya hampir 90% untuk keperluan kucing, mulai dari makanan siap saji, berbagai jenis ikan  yang direbus terlebih dahulu, makan ringan, tempat bermain, tempat makan dan minum sampai dengan tempat tidur dari spring bed,  sementara itu maya rela tidur dilantai rumahnya tanpa kasur.

Hal yang paling menyentuh adalah pada saat perempuan yang hampir separuh baya ini dilamar oleh seorang pemuda bernama Pondi dari kabupaten tetangga, sang calon memintanya  untuk ikut bersama setelah hari pernikahan dan meninggalkan semua kucing yang sudah terlanjur dicintai maya.

Jawaban Maya singkat, “saya tak bisa hidup tanpa mereka, dan saya rela hidup sendiri sampai akhir menutup mata asalkan bersama kucing-kucing kesayangan saya, ungkapnya. Pondi yang mendengar jawaban itu shok dan hampir terkapar, ternyata maya lebih mencintai kucing dari pada dia. Sampai saat ini Maya masih sendiri, menikmati hari-hari indah bersama kucing-kucing yang menggemaskan dan menyenangkan.

Saya ingat setahun yang lalu saya mendapat telpon pukul 03.00 pagi, serasa bagai dalam mimpi saya pun mengangkatnya, suara tagisan di seberang membuat kantuk saya hilang, ternyata salah satu kucing kesayangnya mati ditabrak Bus. Seperti orang kehilangan belahan jiwa dia berduka hampir satu bulan tidak napsu makan, sehingga berat badannya turun.

Kini dia bahagia rasa lelah pulang dari tempat bekerja namun kembali segar dan ceria ketika melihat kucing-kucing itu bersenda gurau, walapun ada kucing yang mencakar sampai terluka tetapi maya bahagia. Merekalah yang akan menemaninya di surga, katanya menutup pembicaraan kami.