Kasihku yang Hilang

Redaksi 19 November 2019 | 15:46 175
Kasihku yang Hilang

Laila Fajri

 

Aku ibu dari tiga anak. Menatap tajam dengan senyuman kearah kuburan yang tidak terlalu luas.Tapi seolah-olah di sana ada seseorang yang ku rindu selamanya. Orang-orang menatapku dengan sendu,karena keadaan ku saat itu dalam keadaan kesedihan yang mendalam.

Ditempat lain. 2 anak  ku yang berwajah sendu, air mata menetes membasahi pipi mereka, kesedihan yang mendalam,disisi mereka masih tergeletak abangnya yang  masih pinsan belum sadarkan diri. Keluarga masih berduka.

Sementara di sudut lain orang – orang sudah berdatangan untuk melayat jasad suamiku.Aku hanya bisa terpaku melihat  tubuh kaku suamiku yang sudah tidak bernyawa lagi.

***

Di dalam toilet kudengar suara lirih yang hampir tidak kedengaran.aku menyenderkan telinga kedinding toilet untuk memastikan bahwa itu suara sumiku yang lirih.Kupanggil adik iparku yang laki - laki, kusuruh dia untuk melihat ke toilet,maklum toilet  khusus untuk pria di sebuah mesjid.

Ternyata benar itu suara lirih suamiku memanggil – manggil salah satu diantara kami yang ikut bersamanya untuk mengantarkan dirinya  ke rumah sakit. Tiba – tiba aku tersentak dengan suara adik iparku yang memanggil aku dengan tergopoh – gopoh, sambil mengangkat tangannya isyarat agar aku cepat – cepat kesana.

Aku berlari menuju toilet. Tiba dipintu toilet jantungku seakan – akan berhenti. Praaaakk ! !!!!! Semua barang yang ada ditangan ku jatuh berantakan.

Aku melihat suamiku yang lemah lunglai, sambil memandang hampa ke arahku.Dengan air mata berlinang kupanggil putriku yang masih berdiri di halaman mesjid. Tanpa pikir panjang kami gotong tubuh suamiku ke dalam mesjid. Sejenak kulihat mata suamiku memandang ke atas, sebentar menatap putrinya yang duduk di ujung kakinya.

Aku hanya bisa membisikkan

“Laaaailahaillaaaah Muhammadarrasullah ketelinga suamiku," tiba-Tiba suamiku menggerakkan bibirnya Wallahualam Aku tidak tau entah apa yang diucapkan,mungkin suamiku mengulang kata-kata yang ucapkan ketelinganya. Beberapa detik berselang suamiku memandang putrinya,lalu mamandang aku bergantian,air matanya menetes.

Aku tidak tau apa maksudnya, ”Tiba-tiba aku reflek mengangguk, seolah -olah aku mengerti arti tatapannya”. Detik itu juga suamiku menutup matanya, tiba – tiba ku dengar suara jeritan putriku yang sangat menyayat. “ Ayaaaaaaaahhh!!! jangan tinggalkan adeeeek,” pilu anakku

Aku memeluknya erat-erat. Ku hibur dia, kubisikkan kata-kata nasihat. Walaupun sebenarnya hati dan perasaan ku tersayat-sayat tidak menentu. “ jangan menangis putriku, ayah sudah tenang dialam sana. Kita harus tabah menerima semua ini,' lirihku.

 Akhirnya putri ku terdiam,sambil memeluk ku, menyenderkan kepala ke dada ku sambil terus terisak menahan tangis.

Aku menyuruh sopir dan adik iparku mengangkat tubuh suamiku kedalam mobil. Sementara orang –orang yang ada di masjid sudah berhamburan untuk melihat dan mengucapkan selamat jalan untuk suamiku.

Aku telepon ibu dan saudaraku di kampung,mengabarkan bahwa suamiku sudah pergi untuk selamanya. Mereka tidak percaya,malah adik dari suamiku yang di kampung bersama ibuku marah kepadaku.

”Jangan bermain-main dengan kabar duka seperti itu kak tidak baik ! " kata adikku  
“Kakak tidak bermain-main dek,abang mu memang sudah tidak ada !" jawabku

Aku dengar isak tangisnya yang menyayat, lalu ku tutup telpon.

Ku suruh sopir masuk ke rumah sakit untuk memastikan bahwa suamiku sudah pergi untuk selamanya,atau hanya pingsan .Ternyata dokter memastikan bahwa suamiku sudah pergi untuk selamanya.

Dengan perasaan bergejolak ku duduk termenung disamping jasad suamiku dalam mabil Ambulance sambil mulut ku komat kamit membaca surat yasin dan berdoa untuk suamiku tercinta. Dengan iring-iringan mobil saudara dan kakakku yang menjemput ke rumah sakit, Aku bawa tubuh suamiku yang sudah kaku kembali kerkampung.

Sesampainya di kampung,di depan lorong masuk ke rumah ku sudah ramai orang-orang menunggu  jasad suami ku tiba.Mereka menyerukan Zikir Asma Allah” LAAAILAHAILLALLAH MUHAMMADARRASULULLAH”.

Aku terharu, dengan sambutan warga kampung yang begitu banyak ingin mengucapkan selamat jalan untuk selamanya buat suamiku.Hingga aku tidak bisa menahan air mata yang berjatuhan di pipiku.Ambulance yang mengantar kami berhenti persis di pintu depan rumah ku.

Sudah berdiri disana abang,adik,ibu,kakak,dan saudara – saudara ku semuanya.Begitu pintu ambulance di buka mereka berhamburan untuk mengangkat jenazah suamiku.

Aku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun, lidahku terasa kelu, bibirku bergetar, nafasku  terasa sesak, kepalaku terasa berat, mataku tiba – tiba gelap gulita, aku tidak ingat apa – apa lagi.

Segalanya terjadi dengan begitu cepat. Hingga aku tak bisa menyimpulkan apapun saat itu. Yang ku tahu aku sudah tak bersuami.

Masih terbayang di mata ku wajah suamiku yang selalu ceria,bersenda gurau dengan anak-anaknya.Ketika pulang dari sekolah selalu bertanya keadaan anak-anaknya.

“Bagaimana pelajaran di sekolah hari ini sayang?"

“PR apa hari ini sayang ?"

“Sudah makan sayang ?" tanyanya

Sambil meyodorkan sebuah bungkusan yang di dalamnya berisi makanan.

Tidak ada lagi yang menyapaku saat aku tiba di rumah.Tidak ada lagi yang menyanjung hidangan masakan yang ku masak. Sekarang semua kata – kata itu tidak akan pernah lagi bergema di telingaku yang ada hanya kebisuan yang sangat sunyi.

Di pojok ruang aku masih meneteskan air mata. Kulihat semua orang masih tersungkur, menangis meratap. Dalam hatiku, ini tak benar. Kematian seseorang tak boleh diratapi.

Kami harus ikhlas. Karena semua yang bernyawa pastilah mati. Dunia ini hanya titipan Allah semata, Dia berhak mengambilnya kapanpun Dia mau.

Kita sebagai hamba hanya mampu mengikhlaskan apapun yang jadi  kehendak-Nya. Toh insya Allah suamiku akan tenang disana,dan ditempatkan di syurga Jannatunnaim.

Tiba-tiba kekuatan Maha besar masuk ke dalam sanubariku. Menguatkan imanku, menghantarkan energi positif dalam tubuhku.

Aku bangkit menuju kamar mandi. Kusiram seluruh tubuhku. Kuambil air wudhuk. Kemudian aku shalat dua rakaat. Entahlah, shalat apa itu.

Sampai sekarang akupu tak tahu. Dalam sholat  ku sebut nama suamiku berkali-kali. Setelah selesai ku adukan keluhku kepada sang pencipta, aku menuju ke tempat suamiku di istirahatkan.

Aku masuk kedalam ruangan dengan aura ketegaran. Kulihat di sekeliling hanya ada isakan. Klihat jenazah suamiku. Kutatap dengan senyuman. Sayang aku tak bisa melihat wajahnya, padahal aku ingin sekali.

Aku mendekat tapi seseorang menahanku. Mungkin mereka takut aku meratapinya. Tak lama kemudian beberapa orang sudah bersiap berdiri berjajar. Mereka mengangkat jenazah suamiku keluar.

Disana sudah berdiri salah seorang pemuka agama di kampungku, lalu beliau berpidato singkat untuk mengingatkan umat yang masih hidup untuk membayangkan bahwa kita juga pasti menuju alam sana yaitu alam baka,begitulah adat di kampungku disetiap ada orang meninggal.

Setelah selesai berpidato pemuka agama menyuruh orang – orang yang berjejer untuk mengangkat jenazah suamiku menuju mesjid  di depan rumahku, untuk di sholatkan.

Shalat jenazahpun dimulai. Dibarisan belakang, barisan wanita aku,kakak sepupuku, dan 2 orang makcikku.Kenapa tak ada yang lain ? Kemana mereka ?

Ya... semua keluargaku tak ada yang sanggup berdiri. Mereka masih tak percaya dengan apa yang terjadi.

***

Semua prosesi ku ikuti sampai selesai. Bahkan aku ikut mengantarkan ke pemakaman. Sepanjang jalan orang menatapku heran.            

Suamiku tercinta, ku melepasnya dengan doa dan senyuman. Kuberikan penghormatan terakhir dengan menabur air bunga mawar. Ku tinggalkan beliau dengan keyakinan bahwa para malaikat akan menjaganya.

***

Sampai selesai aku tak meneteskan setitik air matapun. Karena aku yakin, suamiku tempatnya adalah syurga. Kenapa mesti ku tangisi, harusnya aku bahagia, karena beliau sudah sampai pada janji bersama Rabbi-Nya.

Aku harus melanjudka hidup. Aku harus terus tersenyum menghadapi manis pahitnya kehidupan. Kuciumi anak-anakku. Kulantunkan do’a – do’a. Hanya mereka penyemangatku saat itu. Hanya Allah yang mampu mengambil dan mengganti apapun di dunia ini.

Harapanku apa yang di tinggalkan suamiku menjadi investasi terbesarnya. Di dunia dan di akhirat. ”Salah satu yang bisa menolong kita di akhirat adalah do’a anak shaleh.”

So.. sayangi suami kalian. Karena  Nabi Muhammad SAW mengatakan “bagi perempuan yang sudah bersuami maka syurga itu di bawah telapak kaki suaminya."

"Aku rindu suamiku..."

THE END                                                                                

Tentang Penulis                                                                                                                                 Laila Fajri adalah anak dari bapak Ibrahim dan ibu Tilaibah Abbas, Lahir pada tanggal, 25 Mei 1972 di Musa Lueng Putu, Pidie Jaya, Aceh. Ambil S1 Di Fakultas Ilmu Pendidikan, Serambi Mekkah 2006.

Penulis  Bekerja di SD Negeri Lancang Paru. Aktif sebagai Admin dan pemandu KKG Gugus 4 SDN  Inti Paru Keude. Anggotra TIMBANGKUR Pidie Jaya.

Dan merupakan anggota Ikatan Guru Indonesia ( IGI ) serta Forum Aceh Menulis (FAMe) Kab. Pidie Jaya, Aceh.

"Kasihku yang Hilang"  merupakan Cerpen pertama karya Penulis

Nama                           : Laila Fajri                             

NIP                             : 19720525 200212 2 002

Instansi                        : Kepala SDN Teupin Pukat