Teuku Hanansyah Bicara Sosialisasi Zakat, Infaq dan Sedekah Bagi Tokoh Masyarakat

Redaksi 13 November 2019 | 20:14 62
Teuku Hanansyah Bicara Sosialisasi Zakat, Infaq dan Sedekah Bagi Tokoh Masyarakat

Ist,

(KI) Banda Aceh, - Pada 13 Nopember 2019 tepatnya di Aula Kampus STEI Tgk Chik Pante Kulu diselenggarakan sosialisasi hal memaksimalkan potensi zakat melalui implementasi kesadaran masyarakat yang dihadiri 200 peserta dari unsur Imam chik gampon, tokoh gampong dan mahasiswa.

T. Hanan, salah seorang narasumber mengatakan bahwa persoalan ummat hari ini akan terjawab jika peran zakat di negeri ini optimal dalam pengelolaan dan pendistribusian solusi memberantas kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi.

Dia mengatakan, dalam perspektif ekonomi syariah, secara makro keseimbangan distribusi pendapatan dan kekayaan dapat ditinjau pada tiga aspek, yaitu pre-production distribution, post-production distribution dan redistribution.

Pertama, pre-production distribution, yaitu distribusi barang dan jasa sebelum produksi. Untuk menilai apakah sebuah negara mempunyai arah kebijakan miningkatkan pendapatan kelompok miskin (mendistribusikan pendapatan untuk rakyat miskin), dapat dilihat pada struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Bila struktur APBN mengalokasikan anggarannya lebih banyak untuk program pemberdayaan masyarakat miskin maka arah kebijakan negara tersebut memang pro-poor, berpihak untuk meningkatkan kesejehteraan masyarakatnya.

Namun sebaliknya, bila postur APBN nya sedikit untuk program pemberdayaan masyarakat, maka arah kebijakannya kurang memperhatikan aspek keadilan distribusi kekayaan pada kelompok miskin.

Kedua, post-production distribution, yaitu distribusi barang dan jasa setelah produksi. Terkait dengan barang dan jasa yang telah diproduksi dengan reward yang diterima oleh masing-masing faktor produksi, seperti modal dan tenaga kerja sesuai dengan kontribusi masing-masing, baik melalui mekanisme pasar maupun intenvensi pemerintah.

Indikator yang digunakan adalah kebijakan Upah Minimum Kab/Kota (UMK) kepada kelompok buruh. Penetapan besaran UMK yang didasarkan pada keadilan dan kemaslahatan umum akan mendorong terciptanya pemerataan pembangunan yang baik.

Dan yang ketiga, redistribution yaitu mekanisme pendistribusian kekayaan. Mekanisme ini didasari atas motif baik adanya ancaman maupun iming-iming balasan yang akan diterima bila mengerjakannya. Misal Allah mengancam akan mengalungkan harta bagi mereka yang bakhil.

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Sebenarnya kebakhialan itu akan dikalungkan di lehernya kelak pada hari kiamat…..” (QS Ali Imran : 180).

Allah akan memberikan ganjaran (reward) bagi orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah sebanyak 700 kali lipat “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. ……” (QS Al Baqarah : 261).

Diakhir sesi Hanan mengatakan sudah saatnya kita kembali kepada Alquran yg menjadi pedoman hidup dalam kehidupan. Hadiri para narasumber T.Hanansyah Direktur LKMS Mahirah, Senator M Fadhil Rahmi LC MA, Tgk Mursalin Basyah Lc MA Dosen HES, Darmawan S.AP. dari Baitulmall Prov. Aceh dan Ketua STEI Tgk Jamaluddin MA

"Di Aceh telah merevolusi sistem ekonomi yang selama ini ribawi kembali ke syariah sebagaimana dalam Qanun LKS no 11 tahun 2018 mengamanatkan termasuk hal zakat,infaq,wakaf dalam hal keuangan semua orang wajib tunduk pada qanun ini." tutupnya Hanansyah. (Red/HS)