Tarmizi Age : Malik Mahmud Al Haythar Yang Teken MoU Aceh di Helsinki

Redaksi 01 Juni 2021 | 10:48 28
Tarmizi Age : Malik Mahmud Al Haythar Yang Teken MoU Aceh di Helsinki

Foto : Isitmewa

BANTEN | Koranindependen.co -- Sesuai apa yang tertulis di Google, Malik Mahmud Al Haythar yang sekarang menjadi Wali Nanggroe di Aceh adala orang yang lahir di Singapura, pada 29 Maret 1939; dan merupakan salah seorang tokoh pejuang Gerakan Aceh Merdeka (GAM), kata Tarmizi Age mantan aktivis Aceh di Denmark, Senin (31/5/2021).

Malik Mahmud yang kala itu menjabat sebagai Perdana Menteri Gerakan Aceh Merdeka mendapat kepercayaan menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki atau Kesepakatan Damai antara RI - GAM di Kota Helsinki, Negara Finlandia, pada Senin 15 Agustus 2005.

"Dalam sejarah Aceh sepanjang masa, mungkin inilah kali pertama Perdamaian Aceh ditandatangani oleh orang yang lahir di negara asing," ujar Tarmizi Age.

Malik Mahmud di ketahui merupakan dari keturunan keluarga Aceh di Singapura yang terbilang sebagai pengusaha sukses, dan disebut berperan dalam Gerakan Aceh Merdeka. Setelah kesepakatan damai disepakati kedua belah pihak di Aceh, dengan di tengahi Mantan presiden Finlandia Martti Ahtisaari, Malik Mahmud Al Haythar menjadi Wali Nanggroe di Aceh,

"Malik Mahmud pun memimpin Lembaga yang disingkat LWN (Lembaga Wali Nanggroe) adalah sebuah lembaga yang mengatur kepemimpinan adat di Aceh, dengan mendapat kucuran dana dari negara miliaran rupiah setiap tahun. Untuk mereview kembali hasil Perdamaian Aceh yang di tanda tangani Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaludin mewakili Negara Republik Indonesia (RI) dan Malik Mahmud Al Haythar mewakil Gerakan Aceh Merdekan (GAM), menjelang 16 tahun pada Agustus mendatang, apa yang telah diraih untuk masyarakat Aceh, baik itu menyangkut ekonomi maupun politik dan lain-lain", ujar Tarmizi Age.

Sudahkah rakyat Aceh sejahtera, atau belum, sejauh mana hasil yang sudah di capai untuk kemaslahatan hidup rakyat ditanah rencong, di bawah payung MoU Helsinki, dan sejauh mana pula capaian politiknya. Peringatan 16 tahun Kesepakatan Damai RI - GAM rasanya menjadi momentum penting untuk Wali Nanggroe Malik Mahmud Al Haythar mengumumkan apa saja yang sudah dilakukan pihaknya untuk Aceh sesuai MoU Helsinki, dan apa lagi yang belum bisa dilakukan, jelas Tarmizi Age.

Wali Nanggroe juga harus menjelaskan kepada rakyat bagaimana nasib MoU Helsingki kedepannya, apakah masih bisa dijadikan pedoman atau rujukan untuk rakyat Aceh atau tidak. Di Aceh ada MoU Helsinki dan ada pula UU PA yang disebut turunan dari MoU Helsinki, Wali Nanggroe Malik Mahmud Ql Haythar harus tegaskan rakyat Aceh harus pegang yang mana ini, atau pakai dua duanya, sehingga tidak meraba-raba,

"Kejelasan nasib MoU Helsinki penting disampaikan ke publik oleh Malik Mahmud yang sudah mendapat kepercaya penuh dari GAM untuk menanda tangani Kesepakatan Damai RI - GAM dan diangkat menjadi Wali Nanggroe di Aceh", kata Tarmizi Age.

Saya kira jutaan rakyat Aceh sedang menunggu kejutan dari Wali Nanggroe Malik Mahmud Al Haythar, "apa yang akan di di release menyangkut nasib MoU Helsinki pada peringatan 16 tahun nanti. Semoga saja Perjanjian Damai Aceh yang sudah dicapai dengan susah payah bisa berkekalan se-umur masa (selama lamanya) tutup Tarmizi Age yang pernah ikut masuk hutan saat konflik Aceh mendera. (*)