
Rasanya ku tertanam menahan luka yang dalam..
Hampir saja ku ingin putus asa....
Melihat keadaan ku saat ini...
Namun aku harus tetap tegar demi masa depan”.....
Hari demi haripun berlalu, kini aku sudah melewati masa-masa kecilku dan berganti dengan masa remaja yang akan menjadi tumbuh dewasa. “Ternyata berat yahh... Melewati semua fase sendirian, berjuang melawan keadaan “... Kataku dalam hati. Tetapi aku harus bisa karena ini semua demi masa depan dan keinginan terbesar ibuku agar aku bisa selalu berusaha untuk menggapai cita-cita yang selama ini aku mimpikan.
Pada suatu hari, aku sedang duduk di taman kota untuk menghilangkan sedikit beban dan ingin menikmati suasana sejenak. Di situ aku melihat ada seorang perempuan seusiaku bersama dengan ayah dan ibunya. Betapa bahagianya wanita itu bisa mendapatkan cinta dan kasih sayang seorang ayah, dukungan dari seorang ayah untuk anaknya yang selama ini aku harapkan. Ketika itu aku sedang duduk sambil menulis diary seperti biasa di buku harian. Langsung air mataku jatuh, ingin rasanya aku teriak mengeluarkan semua yang aku pendam. “Ingin rasanya aku memeluk sosok ayah dan berkata aku tak sanggup melewati semua ini sendirian, sampai kapan aku mampu bertahan... Ya Allah bagaimana rasanya dekat dengan ayah, mendapatkan kasih sayangnya, dan di dukung olehnya.. Terkadang, aku selalu berfikir mengapa aku tidak seperti mereka yang mempunyai segalanya untuk seorang ayah. Aku punya seorang ayah, tetapi aku kehilangan perannya sebagai seorang ayah. Ibu adalah segalanya bagiku, ia ayah sekaligus ibu dari dulu hingga saat ini”...
“Semandiri apapun aku, pasti ada waktu dimana aku ingin...
Menjadi wanita manja seperti wanita lainnya....
Bisa bersandar dan menangis dalam pelukan seorang Ayah...
Ketika semua terasa berat dan melelahkan...
Tetapi keadaan memaksaku harus menjadi wanita kuat dan mandiri....