Saatnya Anggota Dewan yang Terhormat Menjadi Guru / Dosen

21 Aug 2025 - 19:35
1 dari 2 halaman

 

Belakangan ramai diberitakan bahwa anggota DPR bisa menerima penghasilan setara Rp 3 juta per hari—atau lebih dari Rp 100 juta per bulan—apabila seluruh tunjangan dan kompensasi dihitung secara kumulatif. Meski Ketua DPR, Puan Maharani, menegaskan bahwa tidak ada kenaikan gaji, melainkan hanya perubahan skema rumah jabatan menjadi kompensasi sebesar Rp 50 juta per bulan, angka fantastis itu tetap menyulut protes publik terhadap ketimpangan sosial yang terjadi.

Sementara itu, penghasilan guru dan dosen jauh dari kata memadai. Menurut data Jobstreet terbaru, rata-rata gaji guru di Indonesia masih berkisar antara Rp 3,8 juta hingga Rp 5,5 juta per bulan  . Sejumlah guru honorer bahkan hanya menerima gaji sekitar Rp 1,8 juta per bulan—jauh di bawah rata-rata PNS  . Kondisi ini diperparah dengan kenyataan bahwa banyak dosen, terutama yang masih baru atau berstatus non-PNS, harus mengandalkan penghasilan dari luar pekerjaan utama. Seperti yang dipaparkan Prof. Suci Lestari Yuana dari UGM bahwa lebih dari 60% dosen menilai gaji yang mereka terima secara teratur itu tidak sesuai dengan beban kerja, kualifikasi, dan kinerja, bahkan lebih dari separuhnya bekerja lebih dari 8 jam per hari karena kebutuhan hidup.

Tak hanya itu, seorang dosen muda mengungkapkan pengalaman pahitnya dengan menyebut bahwa ia membuang impian menjadi dosen karena meski lulus S2, gajinya tetap di bawah UMR. Bahkan kadang hanya dihargai ratusan ribu per bulan. Kisah ini menyoroti buramnya realitas kesejahteraan dosen di tanah air. Sebuah ironi di tengah janji kebebasan dan kemajuan pendidikan.

Kesenjangan mencolok antara gaji wakil rakyat dan penghasilan guru/dosen memicu ketidakadilan yang nyata. Para pendidik, yang seharusnya menjadi pilar pembangunan karakter bangsa, justru berada di posisi yang berlawanan, yaitu berpendidikan tinggi, namun kesejahteraannya terabaikan. Bila bangsa ini terus membiarkan paradoks “gaji dewan berhari-hari setara gaji guru dalam sebulan” menjadi wajar, maka bangsa ini sedang membisukan suara moral pendidikan. Bangsa ini sedang menganaktirikan pendidik yang menciptakan manusia manusia yang duduk dikursi dewan yang terhormat.