Logika Teknik yang Diabaikan
Dalam dunia konstruksi, waktu adalah bagian dari kualitas. Beton yang belum matang akan retak, fondasi yang terburu-buru akan amblas, dan rumah yang dikejar target hanya akan menjadi simbol dari proyek yang kehilangan ruh sosialnya.
Dan publik pun mulai curiga.
Apakah ini soal efisiensi waktu?
Atau sekadar kejar tanda tangan kontrak sebelum tahun anggaran berakhir?
Sebab kalau soal membantu dhuafa, mestinya mutu dan keselamatan lebih utama dari serapan anggaran.
Rumah retak sebelum ditempati bukanlah bantuan, tapi beban.
Ketika Amanah Publik Diubah Jadi Target Anggaran
Baitul Mal bukan kontraktor. Ia adalah lembaga kepercayaan umat. Tugasnya menyalurkan zakat, infak, dan sedekah dengan hati-hati bukan mengejar angka di papan laporan.
Namun kini publik mempertanyakan:
Apakah lembaga yang dibentuk untuk menegakkan keadilan sosial sedang tergelincir dalam logika birokrasi kejar target?
Atau ada niat lain di balik percepatan yang mustahil ini?
“Kalau rumah dhuafa dibangun asal jadi, siapa yang bertanggung jawab kalau nanti roboh? Mustahiq? Rekanan? Atau lembaga yang menandatangani kontrak?” tanya Arhas lagi, kali ini dengan nada getir yang menyisakan pesan: hati-hati bermain dengan amanah.