Aceh sebagai Ruang Healing, Sejarah, dan Imajinasi Baru Pariwisata Serumpun
Bulan Madu ke Aceh, Mengapa Tidak?
Oleh: Yusrizal Ibrahim Lamno*
Di tengah arus utama pariwisata yang gemar menawarkan Bali, Phuket, atau Paris sebagai destinasi bulan madu, pilihan sepasang pengantin muda asal Malaysia ini terasa janggal -- sekaligus menarik. Nor Naziroh binti Amar dan Mohammad Nazreen Azraf bin Azmi justru menjejakkan kaki ke Aceh dua hari setelah akad nikah mereka. Bukan ke resort mewah, bukan pula ke kota hiburan. Mereka memilih Banda Aceh dan Sabang.
Nor Naziroh, 28 tahun, lahir dan besar di Alor Setar, Kedah. Lulusan Bachelor of Fine Art (Hons) UiTM Shah Alam, kini bekerja sebagai drafter desain interior. Di luar jam kantor, ia tetap melukis -- sebuah kebiasaan yang menandakan bahwa seni bukan sekadar profesi, melainkan cara berpikir. Suaminya, Mohammad Nazreen Azraf, 32 tahun, lulusan teknik sipil UiTM Pulau Pinang, bekerja sebagai site engineer. Latar belakang rasional dan artistik bertemu dalam satu rumah tangga yang baru dibangun.
Mereka berkenalan di Kuala Lumpur pada 17 Januari 2025. Beberapa bulan kemudian, tepat 27 Desember 2025, mereka menikah. Dua hari setelahnya, 29 Desember, mereka terbang ke Aceh. Nor lebih suka menyebutnya “berlibur”, bukan “bulan madu”. Sebutan yang tampaknya sepele, tetapi menyimpan sikap mental tertentu: perjalanan itu bukan sekadar romantika, melainkan pencarian makna.
Aceh bukan pilihan yang muncul tiba-tiba. Setahun sebelumnya, Nor pernah mengikuti International Collaborative Art Exhibition (ICAE) I di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh. Dari pengalaman itu, Aceh melekat dalam ingatannya bukan hanya sebagai wilayah religius, tetapi juga sebagai ruang dialog seni lintas negara. Ketika sang suami mengutarakan keinginan untuk healing ke laut, Sabang pun terlintas sebagai tujuan yang logis -- laut yang indah, sejarah yang dalam, dan suasana yang tenang.