Aceh sebagai Ruang Healing, Sejarah, dan Imajinasi Baru Pariwisata Serumpun
Bulan Madu ke Aceh, Mengapa Tidak?
Pilihan tersebut sekaligus menantang stereotip. Dalam imajinasi sebagian orang luar, Aceh kerap dipersepsikan sebagai daerah yang “keras”, tertutup, atau rawan bencana. Apalagi, ketika perjalanan tersebut dilakukan di tengah kabar bencana alam yang melanda wilayah utara Sumatra dalam sebulan terakhir. Ketika ditanya soal rasa takut, Nor menjawab dengan jujur: takut itu ada. Namun, mereka memilih percaya pada qadarullah. Dengan restu keluarga dan doa orang tua, mereka berangkat.
Menariknya, yang mereka temukan justru rasa aman dan keakraban. “Kita ini saudara serumpun,” kata Nor. Bahasa, makanan, dan kebiasaan sehari-hari terasa dekat. Perbedaan memang ada -- terutama pada ekspresi seni dan budaya -- namun justru di situlah letak daya tariknya. Aceh hadir sebagai ruang belajar, bukan ruang asing.
Selama berada di Aceh, Nor dan Nazreen berjumpa dengan sejumlah seniman lokal. Percakapan mengalir tentang ide, praktik seni, dan kemungkinan kolaborasi ke depan. Di sini, Aceh tampil bukan sekadar sebagai objek wisata, melainkan sebagai subjek kebudayaan yang hidup -- tempat orang datang untuk bertukar gagasan, bukan hanya mengambil gambar.
Pengalaman tersebut penting dibaca lebih jauh. Dalam konteks pariwisata halal, wisata sejarah Islam, dan diplomasi budaya serumpun Melayu, Aceh sesungguhnya memiliki modal sosial dan kultural yang besar. Kisah Nor dan Nazreen menunjukkan bahwa Aceh bisa menjadi destinasi healing yang rasional sekaligus spiritual: lautnya menenangkan, sejarahnya memperkaya, dan manusianya membuka ruang dialog.
Setelah tiga hari di Sabang dan dua malam di Banda Aceh, mereka kembali ke Malaysia pada 3 Januari 2026. Perjalanan singkat, tetapi sarat kesan. Nor bahkan menyatakan keinginan untuk kembali -- entah untuk berlibur, entah untuk berkarya.