Aceh sebagai Ruang Healing, Sejarah, dan Imajinasi Baru Pariwisata Serumpun
Bulan Madu ke Aceh, Mengapa Tidak?
4 Jan 2026 - 11:44
Penulis dan Dahlia (istri penulis) bersama perupa Dedy Kalé, Salaudin dan Zul MS, saat bersilaturahmi dengan Nor dan Nazreen di Banda Aceh. (Foto: Ral-Edt)
3 dari 3 halaman
Dari kisah itu, pertanyaan di judul tulisan menjadi relevan: Bulan madu ke Aceh, mengapa tidak? Pertanyaan tersebut bukan sekadar promosi wisata. Ia adalah ajakan untuk menata ulang cara pandang terhadap Aceh -- bukan sebagai daerah pinggiran, bukan sebagai wilayah yang selalu dibingkai oleh konflik dan bencana, melainkan sebagai ruang pertemuan antara iman, sejarah, seni, dan kemanusiaan.
Mungkin, justru di tempat seperti inilah bulan madu menemukan maknanya yang lebih dalam: bukan hanya tentang dua orang yang saling mencintai, tetapi tentang keberanian berbagi perjalanan dengan dunia yang lebih luas. (* Penulis adalah pemerhati sosial, seni, budaya, dan politik)