“Pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama. Sekolah tidak bisa berjalan sendiri. Orang tua harus hadir, mau belajar, dan membangun komunikasi yang baik dengan sekolah. Jangan hanya datang ketika ada masalah, tetapi juga ketika sekolah mengajak kita memperkuat kapasitas sebagai pendidik bagi anak-anak,” tambahnya.
Workshop untuk guru mengangkat tema Duek Pakat Guree-Murid, sedangkan kegiatan untuk wali siswa mengusung tema Peutimang Aneuk di Era Digital: Mengubah Konflik Menjadi Koneksi dengan Remaja Gen Z.
Kegiatan menghadirkan Firsta Faizah, S.Psi., M.Psi., Psikolog, yang membahas perkembangan psikologis remaja, komunikasi empatik, validasi emosi, serta pentingnya membangun koneksi sebelum memberikan koreksi.
Melalui workshop ini, guru dan wali siswa diajak memahami bahwa menghadapi generasi Z membutuhkan pendekatan komunikasi yang lebih terbuka, dialogis, dan penuh empati. Konflik antara orang tua dan anak maupun antara guru dan siswa diharapkan dapat dikelola menjadi ruang membangun kedekatan dan pemahaman.
Amiruddin, wali dari Ibtisam sekaligus Ketua Komite Sekolah Sukma Bangsa, mengapresiasi penyelenggaraan workshop parenting tersebut. Ia menilai kegiatan ini memberikan kesempatan berharga bagi orang tua untuk memperluas wawasan dalam mendampingi anak di tengah tantangan perkembangan zaman.