Surya Paloh itu Bukan Seperti Rakit Batang Pisang

Redaksi 27 Oktober 2022 | 17:08 220
Surya Paloh itu Bukan Seperti Rakit Batang Pisang

Teuku Taufiqulhadi, Ketua DPW Partai NasDem Aceh

Oleh Teuku Taufiqulhadi, Ketua DPW Partai NasDem Aceh

Saya telah berhubungan dengan Surya Paloh, yang saya panggil Bang Surya, sejak awal tahun 1989, ketika saya lulus kuliah di Universitas Jember dan  mendaftar menjadi wartawan Media Indonesia (MI), dengan gaya  jurnalistik baru dan perwajahan baru: koran nasional berwarna yang pertama.  

"Pernah nulis?" tanyanya, saat saya  temu figur tinggi besar yang tengah santai di teras Gedung Prioritas saat itu. Saya memperlihatkannya dua tulisan saya berupa opini di koran "Jayakarta". Dengan dua tulisan sederhana itu dan mungkin ia ketahui juga saya anak Aceh, keesokannya saya bergabung dengan MI tanpa tes lagi.

Bang Surya, "bermastautin" sendiri di lantai empat Gedung Hitam, sebutan untuk Gedung  Prioritas yang serba hitam tersebut. Kerap kali, jika sudah selesai pekerjaan di sore hari, saya naik lantai empat untuk ngobrol-ngobrol dengan Bang Surya. Jika tidak ada tamu, ia langsung meminta saya duduk di depannya.

Pertanyaannya selalu dimulai dengan "berita apa yang kamu buat hari ini?" Setelah saya jawab seadanya, ia masuk ke topik-topik lain yang selalu berbeda-beda dari hari ke hari. Tapi, sekitar tahun 1991 dan 1992, ia paling senang menggambarkan bangsa Indonesia yang harus tercerahkan karena didorong oleh misi MI yang progresif. 

Saat itu, saya bertugas di desk perburuhan. Desk ini memberi kesempatan kepada saya untuk meliput semua persoalan perburuhan dalam negeri, yang marak dengan kehadiran perusahaan-perusahaan relokasi dari Jepang atau Korea Selatan, seperti perusahaan pembuat sepatu Reebok, Nike  dll.

Kemudian juga perusahaan-perusahaan  garmen. Semua perusahaan asing itu merupakan perusahaan patungan dengan pengusaha lokal. Karena kehadiran perusahaan relokasi ini, yang memanfaatkn buruh murah Indonesia,  jumlah tenaga kerja yang ditarik ke sektor ini pun sangat banyak. Tapi pada saat bersamaan, bermunculan pula organisasi-organisasi perburuhan dan aktivis buruh yang sangat banyak pula.

Maka tidak heran jika Indonesia saat itu jadi heruk-pikuk dengan demontrasi buruh yang diotaki aktvis buruh tersebut.
Semua peristiwa ini menjadi sasaran liputan saya. Sebagai wartawan muda di surat kabar yang sangat progresif itu, saya melaporkan apa saja tentang isu perburuhan. Berita-berita perburuhan sangat mudah saya peroleh karena hubungan saya yang erat dengan aktivis perburuhan dan perwakilan ILO di Jakarta. Saya tahu berapa harga produksi sepasang sepatu Nike di Tangerang, dan berapa dijual di New YOrk. 

Suatu ketika, ketika sedang menghitung-hitung harga produksi sepasang Nike di Indonesia, saya diberitahukan bahwa Bang Surya ingin bertemu saya segera di lt 4. Saya meninggalkan bahan berita di depan komputer, dan naik ke atas. Bang Surya masih duduk di balik mejanya tapi  wajahnya agak  keras.

"Kamu tulis berita apa hari ini, Fiq", seperti biasa tapi lebih tegas tekanannya. Saya jelaskan bahwa saya sedang menulis tentang persoalan perburuhan Indonesia. "Kamu menulis itu semua dengan fakta yang kamu dapat di lapangan?" tanyanya. Saya mengungguk.

"Bagaimana dengan ini," katanya, menunjuk kepada sebuah berita di MI sehari sebelumnya.
Saya melihat sejenak, dan bertanya, "Kenapa dengan berita ini memang, Bang?"

Ia kemudian mengungkapkan, menurut temannya, berita saya itu tidak benar, dan saya menulis, benar-benar berdasarkan isapan jempol. 

Rupanya berita tersebut berkaitan dengan kondisi sebuah perusahaan order sepatu Nike ini. Nama perusaan tersebut adalah HASI. Pemiliknya teman dekat Bang Surya. Saya menulis tentang dua orang buruh laki-laki dan perempuan yang dipermalukan secara tidak proporsional.

Kedua  buruh itu diketahui mencuri sepatu. Karena ketahuan, keduanya diarak sekeliling pabrik dan di leher dipasang plang yang bertulisnkan "Saya Pencuri Sepatu". Seorang lagi dengan tulisan "Saya Tidak Mencuri Lagi."

Dalam tulisan itu, saya memprotes, tidak seharusnya mempemalukan mereka dengan diarak seperti itu tapi cukup dipecat. Bang Surya mendapat laporan dari temannya, dan berani bersumpah bahwa "Taufiq, anak buah Bang Surya ini, memfitnah perusahaan saya", kata teman Bang Surya.

Saya agak syok mendapat keterangan dari Bang Surya langsung. Karena habis kata-kata, saya mengatakan kepada Bang Surya, "Kalau Abang tidak percaya, Abang  boleh pecat saya". Bang Surya menatap saya tajam. Tapi lama kelamaan, wajah di balik brewoknya, melembut kembali. sambil menghela napas, ia tanya maukah saya diperhadapkan dengan temannya langsung besok? Saya langsung mengangguk mantap. "Besok kamu naik ke sini tepat pkl 10 pagi."  Saya mengangguk lagi dan keluar ruang kerjanya.

Besoknya tepat pkl. 10 pagi, saya membuka ruang kerjanya. Bang Surya, tidak biasa, berdiri dari kursinya, dan berujar. "Abang percaya kepada kamu, Fiq". Ia melanjutkan, yang membuat saya agak terharu karena ia atasan saya, "Abang minta maaf kemarin." 

Rupanya, ia telah mengontak temannya itu, yang kemarin katanya bersedia datang tapi kemudian hari ini tidak bisa dihubungi  sama sekali.

Meski pun demikian, Bang Surya meminta saya untuk tidak bertugas lagi di desk perburuhan tapi ia minta saya untuk bergabung di desk diplomatik dan internasional. Ia membesarkan hati saya, desk diplomatik itu akan membukakan wawasan saya lebih lebar. Sejak itu, saya menjadi wartawan perang yang juga sangat saya nikmati.

Pada tahun 1996, saya secara sepihak menyatakan mengundurkan diri dari MI. Saya keluar dari MI karena perbedaan pendapat soal apresiasi kepada saya dengan perusahaan. Bang Surya tidak bisa mengintervesni terlalu jauh karena akan merusak sistem di perusahaan ini. Ketika akhirnya tidak tidak terjadi kesepakatan juga, saya pamit kepada MI.

Bang Surya berdiri di suatu tempat di halaman kantor dan menatap saya dari jauh. Saya menghampirinya untuk pamit. Ia menerima salam pamit saya dan mengatakan, "Kamu boleh kembali ke sini setiap saat, Fiq". Saya menganggungguk dan cepat pergi.

Di Luar saya bergabung denegan SCTV, setelah itu karena tidak betah jadi reporter TV, saya bergabung dengan majalah ekonomi "PILAR". Tapi dari sana, saya menjadi pemimpin malajah "Amanah". Sebuah majalah keluarga muslim paling kesohor pada era 70-an dan 80-an, tapi merosot dan hilang dari peredaran memasuki tahun 90-an.

Dengan dukungan seorang almuni HMI, saya mengambil alih majalah itu dan saya ganti positioning dari majalah "keluarga" menjadi majalah "Muslimah Perkotaan". Majalah tersebut hanya bertahan setahun, penyandang modal menyatakan, ia berhenti. Maka majalah tersebut saya bubarkan. Selepas dari Amanah, saya host tidak tetap di Radio Trjaya FM.Tapi sesungguhnya saya tidak ada kegiatan khusus yang lain. Usaha saya belum berjalan baik. Dalam kondisi terjepit itu, tiba-tiba dalam perjalanan di atas keretapi, saya mendapat telepon: suatu  suara yang sangat saya kenal. "Dimana, Fiq," tegur suara.

"Di atas keratapi, Bang," jawab saya agak tak saya nyana karena itu Bang Surya. Lantas, ia bertanya lagi berapa hal, termasuk keluarga saya.

"Itu tidak bisa, Fiq. Kamu sudah punya anak tapi kamu belum ada pekerjaan yang tetap," katanya, saya agak kaget juga, karena saya tidak menyangka ia tahu bahwa saya sudah ada anak yang berusia sebulan.
"Besok kamu ke kantor temui Abang," sebelum saya jawab, ia sudah menutup teleponnya. Keesokannya, saya temui

Bang Surya di Kedoya dan ia langsung tanya kepada saya, apakah saya mau kerja di MI atau Metro TV. Saya mengatakan di MI saja. Ia mengangguk dan hari itu juga langsung menjadi wartawan MI kembali setelah melanglang lebih empat tahun. Saya pergi dari MI empat tahun lalu, yang saya yakin, melukai perasaannya.
Tahun 2009, saya meminta ijin kepadanya, untuk ikut pemilu dan menjadi caleg DPRRI di Dapil 2 Aceh dari PPP.

Ketentuan di MI, jika menjadi caleg seperti itu, seorang wartawan atau karyawan MI harus mengudurkan diri. Ia mengijinkannya. Tapi ia memberi nasehat agar saya mengambil cuti di luar tanggungan. "Jika kamu tidak terpilih, kembali ke sini, Fiq".

Dan, memang  saya tidak terpilih saat itu. Beberapa bulan setelah pemilu, saya hendak melaporkan  untuk bergabung kembali dengan MI. Namun saya diangkat menjadi komisaris sebuah anak perusahaan BUMN. Maka sebagai ganti, saya melaporkan tentang kondisi terakhir itu. Ia mengatakan, silahkan saya  jadi komisaris untuk mencari pengalaman baru.

Pada akhir tahun 2012, ia merencanakan mendirikan sebuah partai setelah sebelumnya mendirikan sebuah Ormas Nasional Demokrat. Ia memanggil saya untuk bergabung. Saya bergegas menemui Bang Surya dan menyatakan siap bersama NasDem. Saat melihat, banyak tokoh-tokoh dan anak muda yang sudah bergabung terlebih dahulu. Seperti politisi dari berbagai partai, tokoh ormas pemuda, aktivis berbagai ormas.

Sementara dari MI tidak banyak: saya,  Sugeng Suparwoto, dan Charles Melkiansyah. Paling Banyak dari Partai Golkar seperti Ferry M. Baldan, Enggar Lukito, Victor Leiskodat dll. Dari PAN ada Rio Capella; PDIP di antaranya Zulvan Lindan, dsb.

Kini NasDem telah mengikuti dua kali pemilu yaitu pada 2014 dan 2019. Kami semua, seperti saya, Sugeng, Zulvan, Victor Leiskodat, Ferry, Willy Aditya, yang oleh Bang Surya dianggap seperti adik-adiknya, menghadapi karir politik yang tidak sama. Ada yang naik dan ada turun. Sugeng, dan Willy baru jadi caleg tahun 2019 dan terpilih. Saya dan Zulvan kurang beruntung karena tidak terpilih lagi.

Bang Surya memanggil saya dan Zulvan di antaranya. Ia meminta saya jadi staf khusus sebuah kementerian untuk membantu Sofyan Djalil, tokoh profesional yang sangat ia hormati. Zulvan diminta jadi Staf Khusus Keminfokom untuk membantu Johny Plate. Tidak sepeeti saya, ia juga ditunjuk menjadi Wakil Komut PT Jasa Raharja serta Dewan Pengawas BAKTI (Badan Aksesbilitas Telekomunikasi dan Informasi).

Badan ini bertanggung jawab untuk proyek-proyek PSN, kemudian perluasan pembangunan BTS, perluasan internet di wilayah 3T, dan pembangunan ekosistem digital. Dari kasus saya dan Zulvan menunjukkan, Bang Surya tidak pernah melupakan orang-orang yang pernah bersamanya.

Bahkan ia masih dekat dengan teman-teman seperjuangannya dulu sekali, seperti  Pak Jan Darmadi, Pak Siswono, Pak Peter Gontha, Pak IGK Manila dll. Jadi Bang Surya itu bukan seperti pengguna rakit batang pisang: sesampai di seberang, ia campakkan saja rakit tersebut. Ia sangat menjaga persahabatan. Demikian