Meski Ekonomi Anjlok,Tetap Berpikir Tenang dan Positif

Redaksi 04 April 2020 | 19:32 35
Meski Ekonomi Anjlok,Tetap Berpikir Tenang dan Positif

Hamdani, SE, M.Si

Oleh Hamdani, SE.,M.Si
Dosen Politeknik Kutaraja

"Sampai hari ini masih bisa menikmati mentari pagi pertanda masih ada kehidupan, seperti hadirnya sebuah harapan baru untuk masa depan yang lebih baik".

Begitulah, kita selalu diajarkan untuk memiliki sikap positif dalam berbagai perspektif. Sikap positif menandakan bahwa seseorang masih mempunyai cara berpikir yang rasional, wajar, dan dapat diterima akal sehat. 

Belakangan ini banyak terjadi peristiwa-peristiwa aneh (diluar dugaan) diberbagai tempat. Baik dalam konteks ekonomi, politik, hingga sosial dan bencana alam, termasuk fenomena corona. Terhadap semua fenomena tersebut, seseorang memerlukan sebuah sikap positif untuk menilai dan menerimanya.

Dalam bidang ekonomi, peristiwa "mengamuknya" nilai tukar dollar terhadap rupiah hingga 17000 per USD. Akankah membuat ekonomi Indonesia kolaps?

Atas gejolak ini, pemerintah pun mengambil berbagai langkah strategis untuk jangka pendek. 

Merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dollar sebenarnya bukanlah hal luar biasa. Sudah sering terjadi, fluktuasi nilai tukar selalu bergerak naik atau turun, melemah atau menguat.

"drama" monetary selalu diwarnai dengan cerita seperti ini. Jadi publik pun tidak perlu merasa heran. 

Tergereknya nilai dollar terhadap rupiah yang begitu jauh keatas, disebabkan oleh banyak faktor. Bukan hanya faktor eksternal namun juga internal. Para pakar makroekonomi telah sering meningatkan agar pemerintah harus hati-hati (prudent) dalam mengelola perekonomian nasional. 

Ekonom Faisal Basri misalnya, dalam banyak kesempatan diberbagai forum ekonomi mengingatkan pemerintahan Joko Widodo tentang persoalan energi, pajak, ekspor dan impor Indonesia yang menurutnya tidak efesien dan cenderung mengganggu keuangan negara. Termasuk mengkritisi hutang negara yang kian meningkat. 

Namun kritik tetaplah dianggap kritik, tidak dapat diubah menjadi nasihat. Para pengamat ekonomi di masa sebelum wabah corona sudah agak kuatir laju dollar terhadap rupiah pun telah memberikan advise-nya mengenai neraca perdagangan yang tidak berimbang antara ekspor dan impor.

Hingga transaksi berjalan pun mengalami defisit. Yang pada akhirnya mengurangi devisa yang ada. Itu pula lah yang mempengaruhi melemahnya rupiah terhadap dollar, jika dilihat dari sisi internal. Ditambah lagi dengan tren global karena pandemi corona. Begitu pula aspek investasi langsung dan maupun portofolio yang masuk ke Indonesia mengalami penurunan.

Pembangunan infrastruktur yang dituding jor-joran dan tanpa melalui sebuah perencanaan yang matang juga menjadi penyebab meningkatnya utang. (karena pembangunan infrastruktur dibiayai dengan utang),---meskipun data ini masih diragukan oleh publik--. Ikut mempengaruhi susahnya perekonomian Indonesia. 

Namun apapun cerita dan drama yang dibangun oleh beberapa kalangan yang memiliki kapasitas dibidang ekonomi. Sebagai rakyat biasa dan awam terhadap ilmu ekonomi (makro, moneter, dan kebijakan publik, mikro) tidak memahami apa sesungguhnya yang sedang terjadi dengan perekonomian kita. 

Jika rakyat mendengar penilaian politisi yang memahami ekonomi mengatakan bahwa yang selama ini digembar-gemborkan oleh pemerintah, seolah-olah ekonomi Indonesia baik-baik saja keliru. Politisi menuding pemerintah tidak terbuka dalam hal ini. Kondisi yang sebenarnya adalah ekonomi nasional sedang sakit parah. 

Ntahlah, sekali lagi sebagai orang awam hanya tahu bahwa nilai tukar rupiah yang sudah mencapai 17000/USD sungguh menakutkan.

Maklum, kita pernah merasakan kondisi sulit dan getirnya ekonomi tahun 1998. Dimana waktu itu harga-harga pangan melonjak naik beratus kali lipat, bunga bank merangkak tinggi yang membuat nilai kredit (pinjaman) bank menjadi gemuk. nah!  (*)