Aceh Pungoe Sie

Redaksi 19 Juli 2021 | 17:48 28
Aceh Pungoe Sie

Oleh : Muhammad Ridha
Mahasiswi Prodi Sosiologi Agama UIN Ar Raniry Banda Aceh

Sosial masyarakat Aceh, memiliki struktur masyarakat yang sangat tertata. Norma norma yang berlaku, menyajikan tradisi dan Agama yang sangat kental. Baik di kota maupun pedesaan, tidak terlepas dari kebiasaaan masyarakat soal menjalankan tradisi dan Agama islam. Terlebih Aceh sendiri yang dikenal luas dalam menjalankan kehidupan sesuai dogma Teungku Aceh, tentang keharusan beragama sesuai pemikiran mereka. Juga orang masyarat Aceh Memiliki berbagai instansi khusus yang tidak ada diluar daerah Aceh, instansi yang sesuai dengan Tradisi dan Agama.

Tradisi orang Aceh, selalu berdekatan dengan Agam islam yang berlaku disana. Bahkan terkadang, bagi orang orang yang baru mengenal tradisi dan agama islam di Aceh, sulit membedakan mana agama dan mana tradisi. Terutama anak anak yang baru tumbuh dan mengenal Agama, disangka tradisi adalah syariat agama yang murni. Seperti Meugang yang merupakan tradisi makan daging yang setahun 3 kali diadakan. Tepat sebelum hari hari besar islam, saat masuknya bulan Ramadhan, menjelang Hari raya Idul Fitri, dan Hari raya  Idul Adha. Tradisi Meugang yang terkadang, bagi anak anak disangka sebagai syariat Agama. Orang tua sangat jarang menjelaskan soal Meugang, yang disangka bagi seorang anak itu adalah kewajiban agama. Namun seiring beranjak dewasa, mereka akan mengerti. Begitu pula tradisi Meugang memegang kendali dalam menyatukan dan mempererat kekeluargaan dalam masyakat Aceh.

Daging sapi dan kambing memiliki kedudukan khusus pada masyarakat Aceh. Baik soal tradisi pada hari hari tertentu seperti Meugang bahkan masakan khusus yang menjadi makanan daerah Aceh. Masyarakat Aceh dari anak anak hingga orang tua, Masakan daging adalah bagian dari makanan favorit. Selain menjadi masakan daerah Aceh seperi kuah Beulangong, juga Tradisi dan dan budaya orang Aceh yang memang menyukai daging. Sangat sedikit bagi masyarakat Aceh yang tidak menyukai daging, kecuali Sebagian orang aceh tidak memakan daging karena mengidap penyakit tertentu, yang mengharuskannya menghindari makan daging.

Kuah Beulangong, Kari kambing, Mie Aceh daging, dan lainnya adalah beberapa makanan daerah Aceh. Kegilaan masyarakat Aceh soal daging, tidak terlepas dari lingkungan dan budaya yang berlaku pada masyarakat. Sehingga karakter yang terbentuk pada perihal makanan, menjadi keharusan bagi masyarakat untuk menyantap masakan daging. Setiap daerah di Aceh, terbagi bagi soal masakan yang biasanya disajikan, Seperti Aceh Besar yang dikenal dengan Kuah Beulangong nya, Aceh Utara yang lebih suka memasak kari dan sie  kuah Reuboh, serta berbagai macam masakan daerah lokal Aceh lainnya.

Soal dana membeli daging, kegilaan lainnya terlihat disana. Mengapa demikian?, hal ini bisa dilihat pada saat Tradisi Meugang di  Aceh saat sedang berlangsung, dan juga hari hari sebelumnya. Bagi keluarga yang kurang ekonominya pada Meugang, mereka tidak takut untuk berhutang pada tetangga dan pada orang yang dikenal, bahkan menjual barang yang beharga milikya seperti cincin. Tidak hanya pada hari Meugang, pada kesearian masyarakat jika ingin membuat Acara tertentu, tidak akan ragu soal mengeluarkan dana membeli daging, Menyoe hana peng ,utang ( jika tidak ada uang, utang dulu).

Kemudian soal perayaan Acara pesta pernikahan, Sunat Rasul, dan acara lainnya baik formal dan non formal. Istilah yang keluar dari mulut masyarakat,  Padup Boh neusie leumo atau padup  boh neusie kameng . Pertanyaan tersebut tidak akan terlepas pada sosial masyarakata Aceh ketika mereka ingin membuat Acara. Hampir semua Acara baik Acara Tradisi maupun Agama, masakan daging umumnya akan tersaji. Bagi masyarakat yang kurang modal dalam membuat Acara, masakan daging juga tetap ada, walaupun tidak harus memotong sapi atau kambing, akan tetapi dibeli per kilogram sesuai dengan kehadiran undangan pada Acara tersebut.

Dengan demikan, istilah Aceh Pungoe Sie menjadi kalimat positif dan menjadi kebiasaan dalam  masyarkat Aceh, yang memang tergila gila dengan daging. Keunikan pada masyarakat Aceh, tidak terlepas dari filosofi dan histori tentang Aceh. Pada umumnya hari Meugang lebih dikenal luas di Indonesia, karena memang menjadi salah satu tradisi Aceh dalam menyambut Hari besar Islam di Aceh, namun banyak yang belum tau bagaimana orang Aceh dalam melihat persoalan daging dalam kehidupan sehari hari. Gotong royong Daging, mulai dari menguliti sapi atau kambing hingga memasaknya adalah hal unik dan menjadi budaya orang Aceh. Pada daging terdapat makna Bersama, pada daging terdapat kemegahan dan kekayaan orang Aceh. 

Meskipun Aceh dikenal sebagai daerah yang paling miskin di Indonesia. Soal makanan penulis rasa, Aceh lebih kaya pada masalah lidah. Pada hari Meugang saat harga daging naik hampir 2 kali lipat, di saat itu pula berbondong bondong masyarakat membelinya. Jika kita lihat pada 2 perspektif. Pertama, Aceh kental akan tradisi dan selalu berantusias membeli daging pada hari Meugang. Kedua, masyarakat Aceh banyak yang kaya, karena pasar dipenuhi pembeli daging, dengan harga yang hampi mencapai 200 ribu per kilogram.