Mualem punya momentum. Ia punya modal sejarah. Ia punya simpati publik. Dan kini ia punya kekuasaan. Yang belum dimiliki adalah bukti konkret.
Aceh telah terlalu lama bergantung pada romantisme perjuangan. Kini yang dibutuhkan adalah rekam jejak pembangunan -- jalan beraspal, lapangan kerja, industri berdiri, nelayan sejahtera, petani makmur, korban konflik pulih, generasi muda punya masa depan.
Jika periode ini hanya mengulang pola seremonial dan slogan, maka Aceh akan kehilangan satu lagi kesempatan emas. Dan sejarah akan mencatat: pemimpin besar yang gagal menjadi negarawan pembangunan.
Namun jika Mualem menembus lingkaran retorika dan benar-benar bekerja: membangun lembaga, mengeksekusi program, memastikan manfaat menyentuh rakyat -- maka sejarah akan berpihak. Bukan karena masa lalu, tapi karena masa depan yang ia bangun.
Kini rakyat menunggu. Dan waktu sedang berjalan. Aceh tak perlu lagi janji. Aceh perlu pembuktian. Semoga kali ini, harapan tidak berhenti di papan baliho.
(* Penulis adalah pemerhati sosial, seni, budaya, dan politik)