HASAN LIGAT MENEBAS DUA SERDADU BELANDA

8 Jun 2026 - 21:48
2 dari 3 halaman

Tangis pecah di ruang sidang. Habibah, sang istri, pingsan setelah mendengar suaminya dijatuhi hukuman seumur hidup.

Yang lebih menyedihkan, Hasan tidak diberi kesempatan untuk berpamitan dengan ibu maupun istrinya. Usai persidangan, kedua tangannya langsung diborgol dan ia dibawa menuju stasiun kereta api untuk diberangkatkan ke Kutaraja (Banda Aceh), sebelum akhirnya dikirim ke Pulau Nusakambangan.

Di tengah keramaian, suara ibunya terdengar memanggil dengan penuh pilu.

"Nyak Hasan... Nyak Hasan... Nyak Hasaaaan..."

Hasan mendengar suara itu, namun ia tidak sanggup menoleh ke belakang. Dengan langkah berat, ia terus berjalan menuju perjalanan panjang yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Hidup dalam Penjara Nusakambangan

Tahun 1940, Hasan tiba di Nusakambangan. Sesampainya di sana, ia langsung dimasukkan ke ruang tahanan bawah tanah yang gelap dan terisolasi bersama para tahanan lainnya.

Selama enam bulan pertama, hampir tidak ada aktivitas yang dilakukan selain duduk dan merenungi nasib. Setelah itu, Hasan dipindahkan ke blok yang lebih besar bersama ratusan narapidana lain yang sebagian besar berstatus hukuman mati atau penjara seumur hidup.

Setiap hari para tahanan diwajibkan melakukan kerja paksa membelah batu gunung. Makanan yang diberikan sangat sederhana dan jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi.

Meski berada dalam tekanan berat, Hasan tetap dikenal sebagai tahanan yang disiplin, pendiam, dan patuh terhadap aturan.

Di Nusakambangan, Hasan mulai bertemu dengan sejumlah tahanan asal Aceh. Setelah berusaha mencari dan mengenali satu per satu, akhirnya ia berhasil menghimpun sekitar sepuluh narapidana yang berasal dari Aceh dan memiliki latar belakang serupa.

Dalam kesendirian dan penderitaan, Hasan mulai memikirkan keluarganya di Sigli. Ia teringat ibunya yang telah renta, adiknya Johan, dan terutama Habibah yang ditinggalkan tanpa kepastian.